Thursday, September 21, 2017

Tentang Dakwah Fase Mekkah Era Rasulullah SAW

Ada tahapannya, ada prosesnya. Sejak risalah Islam diterima Nabi Muhammad SAW, maka secara resmi dakwah dijalankan. Yang terdekat, menjadi sasaran dakwah Islam. Istri, sepupu, budak, paman dan sahabat-sahabat Rasulullah pun masuk Islam. Yang menolak pun tak sedikit dari kerabat.

Ada tempat sebagai senter (Pusat) dakwah dalam fase pembinaan dan kaderisasi. Rumah Arqom bin Al Arqom sebagai tempat rahasia berkumpulnya para sahabat dalam pembinaan. Tak jarang, Rasulullah SAW mengutus sahabat untuk membina ke keluarga yang bersedia untuk masuk Islam. Tahapan ini difokuskan untuk mengkristalkan akidah Islam dalam setiap individu-individu yang memeluk Islam. Islam menjadi way of life bagi setiap sahabat. Tak ada yang bisa menukar iman mereka, bahkan nyawa pun siap dikorbankan. Lihatlah karakter Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Bilal dan sahabat lainnya. Islam telah menjadi pusat edar dalam hidup meraka.

Hidup para pejuang Islam di fase ini berubah drastis. Dengan Islam dan mendakwahkannya, mereka mendapat ujian dan cobaan. Ada yang dikeluarkan dari komunitas atau keluarganya. Ada yang disiksa secara fisik. Bahkan, ada masa ketika kaum Qurais melakukan boikot kepada Bani Hasyim dan Abdul Mutholib, karena dianggap melindungi dakwah Islam. Inilah bagian kisah sejarah, ketika masyarkat jahiliah baru mengenal Islam. Penolakan mereka karena kejahiliahan dan kerasnya hati menerima kebenaran.

Tak beda di era jahiliah modern. Dimana banyak orang tak mengenal lagi syariat Allah bahkan meninggalkan akidah Islam. Mereka bukan lagi menjadi pembela ajaran Islam dengan berupaya sekuat tenaga dalam belajar Islam, menerapkannya dan mendakwahkannya. Ada yang tak sadar sudah menjadi Abu Jahal dengan memfitnah dai-dai Islam sebagai agen faham impor. Fitnah murahan mereka lontarkan agar sesama umat Islam saling bertengkar.

Tantangan besar dalam dakwah Islam hari ini adalah mendakwahi di kalangan ummat Islam sendiri yang jumlahnya sangat banyak (dominan dan mayoritas). Mereka masih meyakini bahwa Allah lah Sang Pencipta, namun kebanyakan belum mengakui Allah sebagai Al Muddabir, Maha Pengatur. Termasuk, mengatur interaksi antar manusia (hablum min annas). Beratnya lagi, ketika secara batin dan lisan meyakini Islam sebagai agamanya, namun secara keyakinan pemikiran masih menerima kapitalisme dan sosialisme sebagai sebaik-baiknya sistem kehidupan.

Mencabut pemahaman batil di benak-benak kamu muslimin bukanlah perkerjaan yang ringan. Perlu ada perang pemikiran, dialog dan interaksi secara intensif. Interaksi pemikiran membutuhan transfer of knowledge. Disinilah peran dai-dai untuk selalu menyuarakan Islam melalui berbagai media harus digemakan.

Dakwah fase Mekkah, dakwah yang bersifat pemikiran, tanpa kekerasan. Perekrutan, pembinaan dan perang opini menjadi domain aktifitas para dai. Bekal ilmu dan kesabaran menjadi modal besar dalam keberhasilan fase ini. Membesarnya dakwah islam akan ditandai dengan defense yang semakin tinggi juga dari para penentangnya. Mulailah adu makar. Berhati-hatilah dengan kaum munafik yang begitu mudah menyebarkan hoax agar ummat Islam tercerai berai dan mudah diadu domba. Efeknya, syiar Islam semakin membahana ke seluruh pelosok negeri. Bisa jadi berawal dari berita negatif, selanjutnya akan muncul orang-orang berakal yang mencari kebenara Islam. Memeluknya, menerapkannya dan ikut mendakwahkannya. Hanya Allah lah yang mampu memberikan taufik dan hidayah Islam, termasuk kepada para pembencinya. Tak ada yang tahu, jika hari ini ada yang begitu benci dengan ajaran Islam kaffah, di kemudian hari malah menjadi pembela Islam.

Hanya waktu yang membuktikan. Apakah kita bisa melewati masa ini dengan menjadi bagian pembela kebenaran. Semoga istiqomah dalam perjuangan Islam.

Bogor, 1 Muharrah 1439 H

Tuesday, July 18, 2017

Sholawat Asyghil

Sholawat asyghil menjadi masyhur kembali. Sholawat ini ditengahnya berisikan doa bagi pelaku kezaliman. Sholawat ini, ada yang mengatakan dipanjatkan oleh Imam ja’far Ash-Shodiq yang wafat 138 H. Beliau hidup di masa Umayah dan Abassiyah yang secara politik kekuasaan tidak stabil sehingga penuh konflik antara penguasa dengan rakyatnya.

Sholawat ‘Asyghil’ ini juga dikenal dengan sebutan Sholawat ‘Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan Baalawy’ (wafat 1122 H). Dikarenakan sholawat ini tercantum di dalam kitab kumpulan sholawat beliau, ‘al-Kawakib al-Mudhi’ah Fi Dzikr al-Shalah Ala Khair al-Bariyyah’. (sumber:blog.al-habib.info).

Di Indonesia, sholawat ini populer oleh KH Abdullah Syafi’i (wafat 1406 H) dalam setiap siaran radio As Syafiiyah, dibawah asuhan ponpesnya.

Sekarang, sholawat ini kembali populer ditengah karut marutnya politik ummat Islam. Pilkada DKI berefek mengkubunya secara politik. Bahkan tokoh-tokoh ummat Islam sangat kentara mana yang mendukung Pemimpin non muslim (kafir) dan yang kontra. Kekalahan kubu yang pro, berdampak dengan aksi-aks lanjutan menyasar kelompok-kelompok yang kontra.

Hikmahnya, seolah ummat Islam tengah difilter dan diuji keimanannya. Rasa iman yang masih ada mendorong untuk melakukan “perlawanan” dalam setiap kezaliman.
Salah satu senjata yang diandalkan oleh kaum muslimin adalah doa. Jangan remehkan doa kaum muslimin yang terzalimi ditambah lagi dengan sholawat nabi, menuntut Sang Pencipta untuk segera mengabulkannya.

Kuperhatikan, tak lama beredarnya anjuran tuk sholawat asyghil. Tokoh-tokoh yang selama ini getol ingin menyerang islam (islamophobia), selalu sibuk dengan aib-aibnya yang terbuka. Makar (konspirasi) untuk merusak dan memecah kekuatan kaum muslimin, langsung dibalas dengan tunai oleh Allah, dalam sebuah kegagalan konspirasi mereka.

Metode pecah bambu, dengan meninggikan satu kelompok muslim dan menginjak kelompok muslim yang lain, selalu berakibat dengan terbongkarnya aib sang tokoh yang ditinggikan. Bahkan tak sedikit, followenya mulai cerdas dan meninggalkan pemimpin yang mulai asyik dengan godaan dunia. Bagi tokh-tokoh yang “diinjak” selalu mendapat pembelaan ummat dan semakin harum dengan keikhlasannya dalam dakwah Islam. Ummat semakin tahu mana yang dakwah kepada islam dan sebaliknya.

Coba kita perhatikan isi sholawat asyghil (sibuk) tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

(Sumber : http://www.muslimedianews.com/2014/09/sibukkan-dengan-shalawat-sibuk.html#ixzz4n9PQwtMf)

Ya ALLAH, limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
dan sibukkanlah orang-orang zhalim (agar mendapat kejahatan) dari orang zhalim lainnya, keluarkanlah kami dari kejahatan mereka dalam keselamatan
dan berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga Nabi serta para sahabat beliau.

Marilah kita bantu kaum muslim yang tengah terdalimi. Kita amalkan sholawat ini, dan ketika membaca doa yang ditengahnya maka bayangkanlah wajah-wajah pelaku kezaliman tersebut. Insyaallah, perhatikan tak lama maka kita bisa saksikan ornag-orang tersebut saliang bertikai dengan masalah-masalahnya sendiri saling menuding terlibat korupsi. Saling menuding menjadi pembohong dan ada saja masalah-masalah dianara mereka.

Apalagi jika dhari jum’at maka perbanyaklah amalkan sholawat in.
Semoga kita semua diselamtkan Allah dari fitnah akhir jaman. Aamiin

Bogor, 17 Syawal 1438 H

Saturday, July 8, 2017

Kebebasan dan Toleransi di Era Sekulerisme

Sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) menjadi persoalan krusial bagi kehidupan manusia. Meningkatnya kesadaran beragama menjadi pengusik sekulerisme, sehingga terus menjadi perbincangan publik. Geliat kegiatan keagamaan di ruang publik, menggairahkan masyarakat untuk menjadikan dirinya berserah kepada aturan Tuhannya. Tentu saja, ini bertolak belakang dengan prinsip-prinsip sekulerisme yang membatasi agama hanya di ranah privat, haram tuk di ruang publik.

Polemik berkepanjangan ini masih dimenangkan oleh sekulerisme karena prinsip-prinsip sekulerisme diadopsi oleh negara dan perangkatnya. Sebagaimana prediksi Huntington, akan terjadi perang peradaban antara ideologi khususnya kapitalisme (sekulerisme) dengan Islam.

Akhir-akhir ini, ramai sekali aksi-aksi terorisme baik dengan kekerasan maupun verbal. Entah darimana datanganya, tiba-tiba polisi menjadi sasaran sang teroris. Konon katanya, karena ketidakadilanlah sebab munculnya kekerasan tersebut.
Di sisi lain, Indonesia juga marak Islamophobia. Munculnya video yang diunggah oleh Divisihumas Polri (Kamu adalah Aku yang lain) menjadi contoh kecil mindset negative judget terhadap Islam dan pemeluknya. Digambarkan, seolah orang Islam sangat kolot dan intoleran hingga tak membolehkan ambulan pengantar orang sakit tak boleh lewat karena ada pengajian.Sungguh naif, cara pengopinian tersebut.

Kebebasan dan toleransi seolah hanya menjadi hak dari kalangan tertentu, Sedangkan bagi penganut Islam yang berpegangteguh terhadap Islamnya akan mudah mendapat cap intoleran.

Yang kutakpahami, di dunia sekulerisme manapun pasti akan menerima demokrasi sebagai sistem politiknya, Di konsep demokrasi disusun pilar-pilar kebebasan sebagai bentu vox populi vox dei. Nah, seharusnya jika rakyat mulai menginginkan agama sebagai pengatur utamnya dalam kehidupan maka sesuai prinsip kebebasn juga mendapat hak yang sama. Anehnya, khusus yang satu ini dianggap melanggar kebebasan yang lain dan intoleran.

Apa kebebasan itu dimaknai asal bukan aturan agama? maka silahkan saja.

Emboh wis!

Monday, July 3, 2017

Kepemimpinan

Setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungawaban terhadap apa yang dipimpin. Menarik, sifat-sifat utama dalam kepemimpinan yang disampaikan Napoleon Hill dalam bukunya “Think and Grow Rich". Perlu kita renungkan dan terapkan dalam hal kepimpinan hal-hal sebagai berikut:
1. Keberanian yang tak tergoyahkan,
2. Pengendalian diri,
3. Rasa keadilan yang tajam,
4. Kepastian dalam memutuskan,
5. Kepastian rencana,
6. Kebiasaan mengerjakan lebih banyak daripada yang diterima,
7. Kepribadian yang menyenangkan,
8. Simpati dan pemahaman,
9. Penguasaan detail,
10. Kesediaan untuk menerima tanggungjawab penuh,
11. Kerja sama.
Apabila kita lihat dan cermati orang-orang yang sukses dalam karir dan hidupnya, maka kesebelas faktor kepemimpinan diatas akan kita dapati padi diri mereka.
Ada dua tipe kepemimpinan: 1). Kepemimpinan dengan persetujuan dan simpati pengikutnya, dan 2). Kepemimpinan dengan paksaan, tanpa persetujuan dan simati pengikutnya.

Alkisah, kuingn beri contoh sederhana kedua tipe kepimpinan tersebut. Misalnya dalam pernikahan. Bisa jadi suami yang ia terima bukanlah pemimpin terbaik yang ia impikan atau harapkan. Di awal-awal pernikahan, sang suami menjadi tipe yang kedua yaitu dengan paksaan dan simpati. Namun karena keduanya tahu konsep Islam bahwa istri wajib taat kepada suami maka sang istri mengikuti pola visi misi dan pikir serta manjemen keluarga yang diterapkan. Konflik mulai terjadi. Jika sang suami mampu menerapkan faktor-faktor kepemimpinan dalam dirinya maka ia akan segera mendapatkan simpati dari pengikutnya (istri). Namun bila tidak, keduanya akan nelangsa.

Sang suami harus mampu bekerjasama dengan istri dalam mengejar cita dan cinta. Mampu menerima tanggungjawab sebagai suami untuk bersedia menafkahi istri sebagai konsekuensi statusnya sebagai suami. Berusaha menjadi pribadi yang menyenangkan bagi istri dengan berempati dan bersimpati terhadapa hal-hal yang diusahakan sang istri, termasuk masalah selera makanan. Memberi lebih banyak ke sang istri dan tidak berharap banyak menerima balasan. Ketika menghadapi polemik maka mengedepankan rasa keadilan berdasarkan prinsip-prinsip yang diyakini. Kalau pun terjadi diluar harapan, maka sang suami mampu mengendalikan diri, tak marah meledak-ledak apalagi dengan kekerasan. Akan lebih berhasil ketika sang suami mampu membulatkan visi misi dengan sang istri dan mendetailkannya dalam perencanaan yang matang dan terukur.

Selain masalah selera fisik, dengan sikap kepemimpinan yang baik maka siapapun istri anda, pasti kan mendekap erat tangan anda dan siap dipimpin menuju Jannah-Nya.

Let’s fight together!

Bogor, 5 Syawal 1438 H

Wednesday, June 28, 2017

Mendadak Khitan

Libur syawal (Idul Fitri) membawa berkah tersendiri. Libur seminggu ini diisi, salah satunya mencari kuliner di mall. Ketika di jalan menemukan sebuah iklan tentang sunat (khitan). Dua bocah laki-lakiku, langsung kutanya mau khitan mumpung liburan? dan jawabnya iya. Kujelaskan bahwa khitan itu sakit karena kulit sehat dipotong, akan ada darah kelur dan pembengkakan. Bohong jika hanya sakitnya seperti digigit semut. Mungkin, semut merah yang menggigit.

Sebagai seorang muslim menjadi salah satu kewajiban kita menjaga kebersihan dari najis salah satunya dengan syariat khitan. Sang bocah terus menagih untuk khitan. Maka, langsung ku search alamat tukang khitan dan kutanya syarat, biaya dan kapan. Hari ini juga bisa, jawab sang operator. Ya sudahlah, akhirnya hari itu juga mendadak khitan.

Ada konsep yang menarik dalam khitan modern ini, anak-anak dimanjakan dengan permainan PS sambil menunggu. Dan, ketika direbahkan pun untuk di sunat maka anak diajak main game dari ipad. Sakit? iya namun tak menangis. Sakitnya ketika disuntik bius saja.

Kubilang hebatnya kalian berani ambil resiko padahal sudah dijelaskan bahwa sakitnya tidak seperti digigit semut. Sesampai dirumah, aku terbahak-bahak ketika dua bocah mulai merasakan hilangnya efek bius dan merasakan sakitnya pembengkakan. Tak masalah, sabarlah 8 jam kemudian akan menghilang dan tahanlah dengan obat pereda nyeri. Untuk memecah perhatian, kuajak mereka menonton film-film kesukaannya yaitu robot dan flm-film lucu sampai mereka tertidur.

Keesokannya pun sudah mereda dan mulai bermain lagi meski jalannya belum normal. Good Job my boys!.

Kukenalkan salah satu syariat Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan berkhitan ketika usia 80 Tahun lalu diteruskan syariat ini kepada Nabi Muhammad SAW dan ummatnya. Banggaku bukan karena kalian berani, namun bukti ketertundukan kita terhadap syariat yang dibawa Nabi SAW. Semoga ketaatan kalian terhadap syariat-syariat yang lain pun demikian. Pada jaman ini, yang memegang syariat Alla sangat menyakitka bagaikan memegang bara api, pasti menyakitkan.


Khitan bukan untuk kesehatn lebih karena kita mengikuti syariat Nabi kita tercinta. Semoga kalian menjadi pencinta Nabi SAW dengan selalu memegang syariat\nya.

Bogor, 4 Syawal 1438 H












Tuesday, June 20, 2017

Pertanian Organik, Mungkinkah?

Salah satu agenda Nawacita adalah membangun 1000 desa organik. Istilah seribu, bila dalam bahasa jawa berarti banyak. Secara kuantitas target tersebut dibagi dalam 650 desa sektor tanaman pangan, hortikultura 250 desa dan perkebunan 150 desa. Untuk memenuhi target tersebut per tahun rata-rata dibangun 250 desa.

Pasar produk organik dunia bertumbuh 20% per tahun dengan pasar terbesar AS, Jerman, Perancis dan China. Trend setter pangan organik didunia semakin naik sehingga pasarnya sangat luas. Penjualan sayuran organik diperkirakan USD 100 juta per tahun di Jabodetabek. Berdasarkan jenis produk, terbesar di Indonesia adalah beras lalu sayuran. Konsumen Indonesia membeli pangan organik rata-rata karena kesadaran akan kesehatan dan kemasannya menarik.

Dengan jumlah penduduk 254 juta orang, ada 12 juta yang tercatat sebagai konsumen organik. Secara prosentase masih kecil namun sudah cukup besar secara jumlah riilnya. Kendala produk organik ini diantaranya ada pada harga. Biaya input dalam membangun organik ini karena sangat mahal. Disinilah letak masalahanya sehingga masih sedikit petani organik. Belum adanya lembaga resmi yang kapabel dan kelembagaan yang kuat maka produk organik belum bisa tembus pasar tertentu karena ada keraguan (belum ada sertifikasi). Packaging di tingkat produsen juga masih seadanya (kurang menarik) sehingga menjadi kendala tersendiri dalam penjualan. Dari kendala-kendala tersebut menimbulkan harga masih terlalu mahal.

Salah satu solusi yang bisa ditawarkan dalam membangun pertanian organik hingga bisa menjualnya adalah web platform. Pemasaran melalui web ini menjadi alat untuk memangkas jalur distribusi pra pasca panen bagi petani dan peternak organik ke pabrikan dan konsumen akhir.

Terbatasnya informasi pasar dan pendidikan mengenai organik menjadi masalah dalam pengembangan termasuk pembiayaan. Petani sangat sulit dalam mengakses bantuan permodalan di sektor organik ini.

Apabila ditanyakan mungkinkah dikembangkannya pertanian organik? pasti sangat mungkin jawabnya. Hanya saja dalam implementasi kebijakan dan kegiatan tidak semudah yang dibayangkan. Perlu ada pemahaman komunal dan dukungan sistem terutama para stakeholder pertanian. Dengan target produksi yang sangat bombatis, pertanian organik memerlukan strategi khusus agar bisa tetap dikembangkan. Membangun pertanian organik dilemanya dengan sistem budidaya yang ada telah membangun industri kimia yang sangat kuat. menghilangkan pabrik-pabrik kimia tersebut dan mengubah ke organik? butuh super power dalam merubah kepentingan bisnis tersebut.

Produk organik menjadi tren sendriri ketika kesadaran akan pentingnya kesehatan telah dipahami oleh masyarakat luas. Setidaknya, dengan sedikit dukungan dari program pemerintah menjadikan penggerak organik semakin antusias untuk membuka pasarnya dan berproduksi secara berkelanjutan. Untuk merubah secara masif dari kimiawi ke organik? masih jauh dari harapan.

Tuesday, June 13, 2017

Menuju Lumbung Pangan 2045

Ambisius mungkin tapi realistis. Terlepas dari perdebatan apakah bangsa ini berswasembada apa belum, secara bertahap menunjukkan ada keberanian untuk menghentikan impor beras.

Secara kinerja pertanian terus menunjukkan progress positif. Target produksi yang dicanangkan dicapai dengan memperhatikan penggunaan lahan dan pengairan. Milyaran bahkan triliunan rupiah sudah digelontorkan untuk mendorong luas tambah tanam dan bisa hidupnya lahan terlantar.

Pun menariknya, masalah distribusi input dan output mengajak aparat keamanan untuk mengawal stabilitas harga input dan output pangan.

Keberhasilan mengajak aparat kemanan seperti TNI dalam menjaga lahan pangan agar dibudidayakan, dan mengawal petani untuk melaksanakan program pemerintah. Maka, hasilnya kestabilan pangan tercipta.

Membangun fondasi lumbung pangan. Daratan Indonesia 191,1 juta ha. Ada 15,9 juta Ha bisa dikembangkan untuk pangan. Apabila bangsa ini menginginkan menjadi lumbung pangan maka perlu segera selesaikan reformasi agraria. Bagaimana menjaga lahan pertanian berkesinambungan dan memanfaatkan lahan-lahan tidur untuk diproduktifkan.

Thursday, June 8, 2017

Sudahlah Kejar Saja!, Tidak Usah Banyak Alasan

Entahlah budaya mana, terlalu banyak kepura-puraan. Dulu, aku terlalu malu dan banyak alasan ketika menginginkan sesuatu, maka ku seolah tak mengharapkannya sehingga kesannya menghindar. Padahal, di lubuk hati terdalam aku sangat yakin mampu untuk mendapatkannya. Akhirnya, terlalu banyak peluang yang hilang.

Seniorku, beberapa tahun diatasku. Belum apa-apa sudah menghakimi dirinya bahwa tak ada perusahaan yang menerimanya karena usianya sudah “terlalu tua” bagi fresh graduate. Maka, kutantang dia, darimana dia tahu jika perusahaan tak menerimanya sedangkan dia tak pernah satu pun mengirim lamaran. Buktkan saja kalo berani, cobalah kirim ke semua perusahaan yang diinginkan. Jika memang tidak ada panggilan ya bisa jadi memang tidak masuk kriteria. Tapi jika ternyata dipanggil dan berhasil diterima bagaimana? semuanya punya kemungkinan yang sama. Jika ditolak ya wajar, jadi coba saja kirim lamaran sebanyak-banyaknya.

Hasilnya, dia pun diterima di salah satu perusahaan.

Tahu ngga jika Henry Ford adalah mekanik bengkel hingga berusia 40-an, lalu bisa menjadi miliarder dengan mobil Ford nya.

Tahu ngga jika Ray Kroc seorang penjua bergaji rendah hingga berhasil menciptakan McDonald’s di usia 50-an.

Tahu ngga Ronald Reagen menjadi Presiden di usia 70 tahun.

Dan, Kolonel Sanders berusia 60-an tahun saat membuka restoran Kentucky Fried Chicken.

Sudahlah tidak usah beralasan dengan faktor usiamu dalam meraih sesuatu yang kamu impikan. Kejar saja!.

Cerita yang lain, ada kesempatan pelatihan ke luar negeri gratis. Pasti diterima, tinggal mengurus administrasi. Tiba-tiba ada keraguan karena informasi kondisi alamnya kurang bersahabat. Batal mendaftar dengan alasan keluarga kurang berkenan.

Maka, ingin kukatakan apakah keluar negeri itu menjad keinginanmu atau keluargamu? jika memang keinginanmu maka yakinkan keluarga tak kan terjadi apa-apa karena panitia profesional. Akhirnyapun tetap batal.

Peluang beralih ke orang lain yang sangat menginginkan dan ia pun rela meninggalkan keluarga.

Kusarankan, jika memang kita sudah punya keinginan terhadap sesuatu maka yakinkan orang lain termasuk keluarga untuk mendukung.

Tak kan pernah berhasil dan berubah, orang-orang yang menjadikan keluarga sebagai alibi untuk melakukan atau tidaknya. Percayalah, yakinka dirimu dulu terhadap apa yang kamu inginkan maka yang lain akan percaya padamu. Keluargamu itu adalah ujian, dan kamu pun ujian bagi mereka.

Orang lain termasuk keluarga hanya bisa memberikan pertimbangan, kitalah penentu pilihannya. Camkan itu!


Bogor, 12 Ramadhan 1438 H

Sunday, June 4, 2017

Keberhasilan Hidup dari Impian

Katanya, rutinitas adalah pembunuh perubahan. Mungkin hal itu benar, seperti yang kurasakan. Kurangnya gairah dan berharap tantangan.

Maka, kuberanikan diri kembali untuk membuat impian, semoga menjadi awal keberhasilan.

Jika ditanya tentang mau jadi apa, bisa meraih apa dan bisa memiliki apa?. Ku berdiri di depan cermin dan melihat diriku sudah berada pada impian-impian masa laluku.

Pernah, di masa remaja keinginanku untuk merantau di Yogyakarta atau Bogor yang ter-delay karena ketidakridoan ibuku. Kenyataannya, tahun 2010 kuhidup di Yogyakarta sebagai mahasiswa S2 di UGM dan sekarang ku memilih tinggal di Bogor.

Ada sebuah hantu yang masih merisaukan pikiranku ketika di masa kecil ibu menanyaiku mau jadi apa? kujawab kuingin bergelar Doktor (level tertinggi dalam sekolah) dan menjadi direktur. Meski, sampai saat ini ku tak paham mengapa aku menjawab seprti itu. Setdaknya, jalanku sudah setengah untuk meraih impian itu.

Saat ini, ku ingin bermimpi bahwa aku bisa melanjutkan kuliah S3 di UK untuk meriah gelar doktor atau Phd. Dengan meraih gelar tersebut, semakin terbuka peluangku untuk berkarya diberbagai bidang seprti bergabung di kampus sebagi pengajar atau beralih profesi menjadi pengajar atau peneliti.

Untuk mewujudkan hal tersebut tak semudah yang dibayangkan, banyak hal persyaratan untuk melayakkan diri. Yang pasti kemampuan Engslih harus segera di upgrade agar mampu masuk kualifikasi. Banyak membaca dan menulis agar mudah dalam membuat proposal penelitian. Perbanyak network untuk informasi beasiswa dan dosen pembimbing.

Mulai berani dengan aksi nyata. Pusatkan energi dan fokus meraihnya. Salah satu yang harus disiapkan adalah pengorbanan waktu dan keseriusan dalam meraihnya. Kuimpikan persiapakanku hanya setahun ini. tahun depan kuharus sudah terbang dimana tempat kuimpikan.

Kuharus berani investasi waktu dan uang demi meraih impian. Apapun aktiitasnya arahkan ke impian ini. Dimulai sekarang juga. Menjadi penulis dan pembaca yang baik agar bisa upgrade kemampuan bahasa dan menulis sebagai bekal memasuki dunia akademis kembali. Jika ada kesempatan untuk berkarya d bidang tersebut, jangan sia-siakan. Sikat!

Bogor, 9 Ramadhan 1438 H