Saturday, November 12, 2016

RESENSI BUKU 'SEBERAPA BERANI ANDA MEMBELA ISLAM?'





Judul                     : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
Pengarang             : Na’im Yusuf
Penerbit                 : Maghfirah Pustaka
Cetakan                 : Cetakan I, Mei 2016
Dimensi buku        : 145 x 210 x 13 mm
Jumlah Halaman  : xiv + 274 hal.
ISBN                       : 978-979-25-2643-1


“Betapa mulia agama jika memiliki sosok-sosok pemberani di jalan Allah.”
Sesungguhnya Islam adalah pangkal segala kebaikan dan kemuliaan. Cahaya yang menyinari kegelapan. Menebar rahmat bagi seluruh alam. Agama yang agung ini tak akan mampu tampil memimpin di panggung dunia, jikalau seandainya tak ada amal mulia dakwah, aktivitas amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya, yang kemudian diteruskan oleh generasi-generasi emas setelahnya, dari masa ke masa.
Islam yang awalnya terkucil di kota Makkah, pada perjalanannya mampu menjelma menjadi penguasa dua pertiga wilayah dunia. Menggoreskan tinta emas bagi sejarah peradaban ummat manusia hingga hampir 14 abad lamanya. Sebuah perjuangan yang teramat panjang dan sama sekali tak mudah. Karena selalu ada usaha dan konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk menggagalkan dakwah dan memporak-porandakan kehidupan umat.
Adalah berkat dakwah, sehingga di akhir zaman ini pun, meski tak lagi merasai kegemilangan peradaban Islam, milyaran manusia masih dapat mengecap manisnya iman kepada dien yang luarbiasa ini.
Rasulullah Muhammad SAW telah mewariskan amanah dakwah ini di pundak setiap muslim. Menjadi seorang muslim pada hakikatnya dituntut menjadi pribadi yang mampu menjadi penjaga agama yang terpercaya. Memiliki karakter mulia sebagaimana Rasululullah SAW dan para sahabatnya. Dari merekalah kita seharusnya mengambil qudwah dan uswah, untuk kita ikuti jejaknya dalam memuliakan diri kita, dan agar ‘kapal’ dakwah selamat dalam mengarungi samudera yang penuh topan, badai, dan ganasnya ombak.
Berangkat dari kesadaran dan kepedulian akan tantangan dakwah inilah, Na’im Yusuf menulis buku yang berjudul ‘Seberapa Berani Anda Membela Islam?’ ini. Kepedulian beliau dalam hal dakwah, tertuang dalam 3 buku diantara 9 buku karangan beliau (yang antara lain bertema dakwah, ekonomi, aqidah, dan syura’). Melalui buku ini, beliau ingin kita mengenal baik-baik keistimewaan karakter pemberani dari generasi emas pada masa Rasulullah SAW, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan tokoh-tokoh pejuang Islam yang terkemuka dari generasi setelahnya.
Di tengah realitas kehidupan umat yang kian terlibas arus kebathilan dan sedikitnya pribadi-pribadi muslim yang menapaki jalan kebenaran, buku ini menjadi sebuah oase yang menyegarkan. Dengan judul yang menarik, mewakili makna dan urgensinya. Ada 13 karakter seorang pemberani yang disebutkan dalam buku ini, di antaranya; Mencintai masjid, menyeru ke jalan Allah, bersungguh-sungguh, bersikap aktif dan tanggung jawab, bercita-cita tinggi, mulia dan terhormat, berani di atas kebenaran, memenuhi janji dan jujur kepada Allah, dan lain sebagainya. Lengkap dengan kisah-kisah teladan para pejuang, dan dalil-dalilnya dalam al-Hadits maupun al-Qur’an.
“Demi Allah, agama ini tidak akan tegak berdiri kecuali dengan usaha dan kerja keras, tidak akan membawa kemaslahatan tanpa perjuangan dan perlawanan. Untuk mewujudkan ketuhanan Allah SWT di muka bumi, melawan orang-orang yang melanggar kekuasaan Allah, dan menerapkan syari’at Allah dalam kehidupan umat manusia, harus ada kerja keras.” (Na’im Yusuf)
Meski memiliki tebal kurang dari 300 halaman, akan tetapi buku ini sangat kaya isi, dan ditulis secara lugas, tegas, dan to the point. Dengan membacanya secara seksama, kita akan mendapati sosok-sosok pejuang Islam yang pemberani, yang mampu memantik kobaran api semangat dan nyali dakwah dalam diri kita. Patut dibaca oleh setiap muslim yang ingin men-charge spirit dan gairah baru dalam berdakwah dan menapaki jalan kebenaran.































Sunday, September 4, 2016

Tantanglah Seorang Te Agar Ia Bergerak

Ada yang menarik ketika mendapat kesempatan memimpin sekelompok kecil para planner yang senior-senior dengan berbagai karakter. Sebagai orang muda yang baru di tempat tersebut, saya harus belajar dan mengenal lingkungan. Tipe Te (thinking extrovert) membantunku untuk bisa membaca secara cepat pola kerja dan kerjasamanya.

Bulan kedua, ada anggota tim ku yang kecewa terhadap kepemimpinan dan manejerialku, padahal aku belum menerapkan apa-apa kecuali membaca situasi dan kondisi. Memang sih, zona nyaman mereka sedikit kuganggu. Tanpa mau mengenal diriku, sebagian meeka menghembuskan kekecewaan dan menyebar isu bahwa diriku tidak layak dan cemen. Salah seorang yang merasa paling bijak, seolah menjadi penasihat yang paling baik tanga sadar akan posisinya sendiri yang memprihatinkan. Banyak kenangan masa lalu yang diceritakan tentang kejayaan, seolah aku tak bisa apa-apa. Mereka belum tahu bahwa, aku seorang Te yang keras kepala dan menyukai kemenangan.

Konflik ini seolah energi baru bagiku, tantangan untuk menaklukan ego mereka agar tunduk dibawah "kuasa" ku, pemegang otoritas sebagai karakter seorang Te.

Kupelajari pola mereka "meremeh" kanku, dan kulakukan hal yang sama kepada mereka untuk meremehkan mereka. Tahu hasilnya? sekali lagi aku yang menang.
Semua mulai under control, terkoordinasi dan mengikuti arahan.

"25 orang saja pernah kupimpin, apalagi cuman 5 orang ini". Aku mulai susun bagaimana memanage mereka dan mengendalikannya. Hasilnya mulai terasa, timku paling bisa beregerak dan digerakkan.

Semarang, harus ada petualangan baru dengan tantangan baru. Apa yang harus kutaklukan?

Saya Bertipe Thinking Extrovert?

Di dunia psikologi saat ini banyak berkembang teori-teori kepribadian dengan memperhatikan kerja otak. Salah satunya yang cukup terkenal bahkan banyak di seminarkan yaitu STIFIn, yang digagas oleh orang madura, Poniman.

Hasil tes STIFIn, saya bertipe Te. Otak dominan yang bekerja diotakku adalah dibagian atas sebelah kiri, atau disebut otak kiri. Kemudi kecerdasanku ada di lapisan abu-abu yang terletak di luar atau permukaan otak.  Mungkin karena itulah, aku suka warna abu-abu :)

Aku butuh energi luar (rangsangan) untuk semakin menggerakkan otakku ini, atau bisa dikatakan jika ada tantangan dan sesuatu hal yang harus kuraih maka aku bisa memaksimalkan kecerdasanku ini.

Dikatakan pula, Te ini memiliki tulang besar dan kuat dengan bentuk tubuh piknis (mudah bergerak/ga mau diam) karena volume badan dibanding tulangnya lebih kecil. Sayangya, tipe Te ini tidak memiliki cutup banyak cadangan energi (baterai) sehingga tulangnya kurang tenaga, terlalu habit untuk berpikir. Meskipun secara mendasar, Te mudah bergerak namun karena kurang tenaga jadinya malas bergerak. Butuh energi dari luar, butuh tantangan dan ambisi meraih sesuatu.

Konon, tipe Thinking ini banyak menyedot energi untuk kepala karena fungsi kepala yang dominan. Wajar saja, jika menyukai jenis pekerjaan yang memerlukan berpikir keras untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas. Ia jago logika dan bertangan dingin. Apa yang menjadi tanggungjawabnya akan diselesaikan dengan baik.

Tipe T adalah sosok yang berkribadian tangguh dan keras kepala.

Tipe Te akan memiliki sifat-sifat utama: adil, objektif, dan menerima argumentasi logika. Te menyukai peran layaknya seorang komandan sehingga ia cocok ditempat-tempat seperti pabrik, birokrasi, tentara atau dimanapun yang bisa melipatgandakan hasil atau produksi dengan cara pengendalian organisasi yang baik.

Kelebihan Te dari cara kerjanya yang selalu mencari peluang untuk melipatgandakan dengan mengendalikan proses secara tepat. Kemampuan mengendalikan proses produksi menjadi jalan untuk memperoleh kekuasaan. Te pandai mengumpulkan kekuatan untuk menghasilkan kemenangan bagi diri dan organisasinya. Setidaknya, ada sedikit perbedaan jika saya aktif dalam sebuah organisasi yaitu pelipatgandaan. Orang-orang yang berada di sekitarku harus bertambah produktif.

Sepuluh sifat yang menempel pada tipe Te yaitu:
1. Thoughtful
2. Analytical
3. Competitive
4. Reserved
5. Planner
6. Positive
7. Argumentative
8. Forceful
9. Force
10. Justice
Itulah gambaran kepribadian secara humus pada tipe Te, dan emang sepertinya ada pada diriku.

Belajar bukanlah perkara yang sulit bagi Te, karena ia sudah terbiasa menalar, berhitung dan menstrukturkan. Orang Te menjadi orang yang berwawasan karena menyukai banyak membaca berbagai jenis buku meskipun tidak mendalam.

Bila orang Te kehilangan motivasi maka cara termudah adalah memberinya kesempatan untuk berkompertisi untuk mengalahkan yang lainnya. Saya akan merasa hampa dan gregetan bila tidak dapat bertarung dan  mengalahkan yang lainnya. Apalagi, jika dikabarkan kalah bertarung padahal tidak pernah ikut kompetisi. Bagi orang Te sungguh aib, ia lebih suka kalah asal diberi kesempatan bertarung daripada dianggap menang/kalah padahal tak pernah ada pertarungan tersebut. Hati-hati lah dengan orang Te, karena ia bisa menyerap dan meniru apa yang dilakukan rivalnya untuk meraih kemenangan.

Sebagai seorang Te, saya menyadari saya menyukai kemenangan namun kurang stamina. Kelemahanku kurang pandai membuat prioritas jangka panjang meski memiliki peran sangat sirkulatif di semua entitas. kelemahanku juga kurang pandai membaca aspirasi dan terlaulu normatif meskipun siklus hidupku cukup dinamis. Untuk menutupi itu semua, haruslah BERGERAK secara baik.

Sebagai orang Te, saya memiliki kemampuan untuk meraih tahta dimanapun jika segala macam unsur sumberdaya yang ada di bawah kekuasaannya dikelola secara mekanistik seperti pabrik. Kebesaran pabriknya akan sejalan dengan kebesaran tahtanya atau kekuasaanya. Pada diri Te melekat kharisma pemegang otoritas, jka diberi amanah akan dijalankan dengan baik.

Itulah sekilas tenting dirikvu, seorang Thinking Extrovert.