Tuesday, June 19, 2018

Conclusion dalam Esai

Conclusion tak kalah pentingnya dalam esai. Jika pendahuluan memberikan kesan pertama maka conclusion meberi kesan dan pesan saat perpisahan dengan orang yang baru dikenal agar bisa memberi kenangan dan ada keinginan untuk bertemu kembali.
Conclusion ini akan mengingatkan kembali pembaca terhadap argumentasi yang dibangun untuk menguatkan dan menjawab thesis statement.

Conclusion akan memberikan kesan yang baik dan membekas jika bisa mempengaruhi pemikiran pembaca.
Kesimpulan yang dibangun haruslah membuat pembaca tertarik mendiskusikan topik yang dibahas apalagi jika membuat pembaca bersetuju dengan argumentasi penulis.

Beberapa strategi membuat kesimpulan esai yang efektif disajikan di the writing center. Tentu saja strategi tersebut dalam artikel berbahasa Inggris, anda bisa meminta bantuan google translate. Selamat membaca dan menyimpulkan.

Pentingnya Pendahuluan alias Introduction

Pendahuluan merupakan kesan pertama bagi pembaca. Jika tertarik maka dilanjutkan membaca, sebaliknya ditinggalkan bila kurang berkesan dan tak berkenan. Pendahuluan bagaikan kesan pertama bertemu dengan seseorang yang baru dikenal. Pendahuluan tulisan juga penentu pembaca untuk terus membaca atau menjauh.

Pendahuluan memiliki dua tujuan yaitu:
1. Membuat pembaca tertarik dengan tema yang diangkat/ditulis
2. Memberikan panduan bagi pembaca (road map) tentang pendapat penulis dalam  thesis statement nya.
Pendahuluan yang baik memberikan kesan yang jelas tidak ambigu kepada pembaca terhadap tema yang dibahas. Sehingga pembaca akan mudah memutuskan untuk terus membaca (mengulik keinginan tahu).

Bagaiman teorinya menulis pendahuluan bisa secara lengkap baca di wikihow.
Jadi, pendahuluan harus lah menarik dan mengundang pembaca untuk terus membaca. That's the point.

Esai?

Esai didefinisikan prosa singkat tentang subyek tertentu biasanya berisi analisis, spekulatif atau interpretasi dari penulis dengan ditunjang dengan literasi. Itulah esai. Namun, seberapa singkat? Apa subyek tertentu nya? Apa analisis, spekulatif atau interpretasi?

Singkatnya, tidak ada ukuran pasti seberapa singkat dan tema apa saja yang ditulis. Sehingga beberapa indikator dalam esai yang harus ada yaitu:
1. Paragraf pendahuluan yang berisikan thesis statement
2. Body paragraph, berisi data dan argumentasi pendukung dari tema dan thesis yang ditulis di paragraf pendahuluan.
3. Kesimpulan, tentang jawaban dari thesis statement setelah dijelaskan di body paragraph dengan argumentasi yang meyakinkan.
4. Bibliography dari rujukan yang digunakan di esai, agar tidak dianggap plagiat.

Konon, Montaigne (filsuf Perancis) yang mengawali menulis tentang esai dalam bukunya Essais yang berarti usaha, di tahu 1580 M. Lalu, Sir Francis Bacon mempopulerkan nya di Inggris pada tahun 1600an, dengan judul Essay.
Di Indonesia, siapa yang tak kenal HB Jassin, pengarang Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai di tahun 1985.
Dipikir-pikir, esai ini emang kultur berpikir kaum Eropa (western) yang terkenal logis sehingga ketika membahas sesuatu dimulai dari latar belakang dan thesis dan dicari jawabannya menggunakan data dan pendapat orang lain, barulah disimpulkan penulis memilih jawaban yang mana.
Sangat berbeda dengan budaya orang yang suka berpikir "pokoke" yang kadang tidak bisa dinalar dan dibangun argumentasi nya.

Terbiasa menulis esai akan merubah cara atau metode berpikir dari suatu masalah. Cobalah!

Dua Teknik Menuliskan Ide-ide

Era pendidikan sekarang lebih detail hingga meneliti cara kerja otak dan dominasi bagian otak mana yang sering dipakai. Kita dikenalkan dengan istilah otak kanan dan kiri. Konon, otak kiri lebih teratur dan sistematis sedangkan otak kanan bebas berkeliaran liar tanpa harus berurutan. Dari dominasi cara kerja otak tersebut, bisa digunakan untuk teknik menulis ide-ide yang muncul untuk jadi bahan tulisan. Kita bisa memakai keduanya pada waktu dan tempat yang tepat. Dalam menuliskan di blog ini pun saya banyak menggunakan dua teknik tersebut meskipun saya termasuk orang yang dominan dengan otak kiri.

Dua teknik untuk menuliskan ide-ide tersebut yaitu:
1. Freewriting.
Ketika kita menulis tema tertentu maka apapun yang terlintas dalam pikiran atau benak kita, tulis saja. Jangan pedulikan dahulu tentang editing, kesalahan ketik dan lain sebagainya. Ibtinya, tulis saja semua yang terlintas hingga waktu yang ditetapkan. Cobalah berlatih menulis misalnya dalam waktu 5 menit lalu lanjut 10 menit dan seterusnya. Maka, teknik freewriting sangat cocok menggunakan otak kanan lalu dibantu otak kiri untuk merapikan dan mengatur kemudian. Bebaskan pikiran untuk memunculkan ide-ide dalam tulisan.
2. Concept Mapping
Konsep ini menggunakan pemetaan ide-ide sesuai tema. Seperti membuat outline, satu tema pokok dibagi beberapa sub tema lalu dibsubkan lagi hingga lebih detail dan mendalam. Dari concept mapping tersebut, tema utama menjadi titik sentral yang akan dikembangkan dalam paragraf-paragraf tulisan.

Dari dua teknik tersebut, kita bisa melatihnya sesuai kebutuhan dan kondisi. Apabila memiliki waktu cukup panjang menggunakan concept mapping akan lebih terarah, meskipun ketika membangun tulisannya juga menggunakan freewriting. Hanya butuh berlatih dan menikmati teknik mana yang lebih disukai. Just do it.

Academic Writing?

Academic writing merupakan salah satu tipe atau jenis menulis yang berbeda dengan tulisan personal, tulisan bisnis atau tulisan kreatif.
Academic writing itu tulisan dengan ide-ide yang didukung dengan hasil research dan argumentasi para pakar. Tulisannya pun diatur agar formal memenuhi kaidah-kaidah tata bahasa. Asumsinya, tulisan ini dibuat untuk dikonsumsi oleh para educated (terpelajar), sehingga tata bahasa dan formalitas nya dijaga dalam setiap penulisan.

Bahkan dalam penyusunan per paragraf nya pun sangat runtut dengan ide utama dan penunjang nya hingga kesimpulan. Sebagai contoh bagaimana membuat paragraf dalam academic writing dan memahami membangun ide-idenya, bisa menilik ke academic skill.

Semua ada ilmu atau skillnya, begitupun untuk menulis bertujuan academic maka perlu dipelajari dan diasah agar terbiasa. Yuk mulai menulis dengan acedemic skill.

Monday, June 18, 2018

Jerman Kalah dengan Meksiko, Bola itu Bundar Bung

Membahas kekalahan Jerman atas Meksiko. Bila anda menyaksikan pertandingan tersebut maka pasti setuju jika Jerman layak kalah. Serangan yang monoton dan mudah dibaca menjadi pola yang membosankan. Berbeda dengan Meksiko, sungguh ciamik memanfaatkan serangan balik bahkan koordinasi nya lebih rapi.

Kecewa melihat tim Jerman yang tidak menunjukkan kualitas nya. Entah apa sebabnya, pemain-pemain bintang terlihat sudah menua tanpa daya dobrak yang mendebarkan musuh. Hanya Kroos yang bisa kusebut bintang nya masih bersinar yang sangat terlihat berjibaku dan menciptakan peluang. Meskipun, permainan ini adalah permainan tim, tidak dipungkiri pengaruh personal dalam tim bisa dirasakan.

Meksiko layak menang, pola permainan lebih atraktif dan ngotot atau ngeyel untuk meraih kemenangan. Disinilah filosofi bola itu bundar. Bisa membolak-balik an prediksi para pengamat yang hanya pintar berkomentar.

Pelajaran yang bisa diambil, tim bisa kuat dan menang jika persiapan nya lebih matang dan kompak. Sedangkan tim yang pernah juara biasanya merasa sudah cukup dengan kekuatannya dan cenderung meremehkan lawan. Ego-ego pemain juara lebih sulit disatukan daripada tim-tim yang ingin juara. Namun, apapun itu dalam tim sepakbola yang penting menghibur dan membuat deg-degan karena serangan-serangan berbahaya nya. Maka, saya sangat terhibur dengan pertandingan tersebut karena jual beli serangan. Pertahanan terbaik adalah menyerang.

Apabila ada tim yang menyukai bertahan dan kalahan, sudah pasti itu bukan tim favorit ku. Begitu pun pelatih-pelatih yang menyukai pola bertahan dan mengandalkan serangan balik maka kupastikan ku tak menyukai timnya. Untuk Jerman dan Meksiko merupakan tim-tim dengan kualitas serangan yang aduhai. Layak untuk dijagokan kedua-duanya.

Sunday, June 17, 2018

Thesis Statement dalam esai

Thesis itu argumentasi yang bisa diperdebatkan atau mencerminkan sikap penulis. Bukan hanya mengungkap fakta dan data, karena hal itu bukan lah thesis.

Contoh thesis, ketika anda ingin mengungkapkan masalah pendidikan. Thesis yang bisa diambil "Komunitas-komunitas pendidikan bisa menjadi solusi dalam pengurangan gap pendidikan di masyarakat". Dari thesis tersebut anda sudah menentukan tema yang ingin didebatkan adalah keberadaan komunitas dalam pendidikan. Tentu saja ada yang kontra dengan berargumen bahwa kewajiban utama dalam menghilangkan gap pendidikan adalah tugas pemerintah. Dari thesis statement tersebut, anda sudah mampu mengembangkan argumentasi dalam paragraf-paragraf di esai.

Thesis statement bisa dalam 1 atau 2 kalimat yang menyatakan tema yang ingin diangkat sekaligus argumentasi nya sehingga menentukan posisi penulis. Dan perlu diingat bahwa thesis statement mengungkapkan hanya satu tema utama.

Selamat mencoba dalam setiap penulisan terutama esai untuk membuat thesis statement yang argumentatif.

Tuesday, June 12, 2018

Membangun Paragraf yang Koheren

Apabila anda pernah belajar academic writing maka salah satu tema yang dibahas adalah paragraf. Praktiknya, kita menulis beberapa kalimat lalu kumpulan kalimat tersebut sudah kita anggap sebagai paragraf. Western culture, bisa dilihat dari cara mereka berpikir dalam membangun tulisannya dalam sebuah paragraf.  Paragraf (dari bahasa Yunani, paragraph: written beside) diartikan sebagai satu kesatuan ide yang spesifik didukung oleh satu kalimat atau lebih.

Dalam dunia akademis, paragraf terdiri dari tiga bagian yaitu kalimat inti yang berisikan tema, kalimat pendukung dan kalimat kesimpulan sekaligus penghubung ke paragraf berikutnya. Disinilah seninya membaca dengan cara skimming tanpa harus baca detail dalam tulisan akademis karena kita tahu kalimat inti ada di awal dan kesimpulan di Ahir paragraf sekaligus mengetahui paragraf berikutnya akan membahas apa.

Selanjutnya, agar pembaca bisa mudah mengerti terhadap tulisan di paragraf maka kuncinya pada Koheren (keterkaitan) antar kalimat dan paragraf. Biasanya digunakan sinonim kata kerja untuk memberi tekanan dalam pengulangan kalimat (key word). Selian itu, kata penghubung dan kata pengait dalam kalimat sebagi kesatuan tema juga sangat diperlukan. Inilah karakter cara berpikir western yang sangat logis dan fokus pada tema pembahasan dalam satu paragraf hingga jadi satu artikel.

Kalimat-kalimat pendukung bisa berisi data, cerita, contoh-contoh, komparasi dll dari tema utama yang sedang dibahas. Ditambah lagi dalam kalimat Ahir paragraf biasanya dibangun kalimat transisi penghubung antar paragraf sehingga pembaca bisa mengerti apa sebelumnya atau sesudah pembahasan dalam paragraf tersebut. Pembaca akan disuguhkan alur logika yang runtut dalam tema yang sama.

Ya begitu lah teorinya dalam menulis dan membangun paragraf menurut academic writing yang mengutamakan kejelasan dalam pembahasan dan keruntutan. Bisa menambah ilmu. Namun, dari semua teori yang paling penting adalah kita mau mempraktikkannya dan terus belajar.

Yuk Menulis.

Monday, June 11, 2018

Menggunakan "The Power of Purpose" dalam Menulis

Apabila dikatakan kepada kita "gunakan waktu 15 menit ini untuk menulis" maka kebanyakan kita akan bingung dan ga karuan menulis apa saja yang terlintas dibenak. Berbeda jika instruksi tersebut ditambahkan dengan tujuan yang jelas semisal "gunakan waktu 15 menit ini untuk menulis tentang foto-foto yang kalian sukai", maka otak kita langsung fokus menerjemahkan perintah tersebut dalam tulisan mengenai foto.

Sekali lagi, menentukan tujuan atau nilai manfaat yang ingin kita peroleh akan mengarahkan tulisan dengan baik dan terarah. Pengaruh tulisan akan terasa karena kita tahu apa yang kita inginkan: apakah pengenalan inovasi baru, pengumuman, arahan, iklan agar audien membeli, meningkatkan trafik dll

Semakin clear anda menggunakan tujuan maka semakin jelas juga arah tulisan. Hal ini juga bisa digunakan untuk personal branding, apa saja yang ingin anda sajikan kepada audiens agar pembaca menilai karakteristik dari setiap tulisan yang anda unggah. Jika isinya hanya keluh kesah maka anda dianggap orang yang menjengkelkan dan cengeng. Apabila hanya berisi makian dan umpatan maka pembaca menilai anda sebagai orang yang temperamental dll. Cobalah buat personal branding sesuai dengan tujuan anda.