Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Politik

Perubahan vs Status Quo

 Beberapa bulan kedepan, publik akan disuguhkan pada wacana perubahan dan statua quo. Proses suksesi kepemimpinan politik dan kekuasaan sedang berebut wacana publik untuk meyakinkan pemilih agar bisa mendukung dengan memberikan pilihan suaranya kepada para jagoannya. Sementara ini, ada tiga kandidat yang jelas-jelas siap maju melalui kendaraan partai politik: Anies Baswedan, Prabowo dan Ganjar.  Posisi Anies didukung oleh tiga parpol: Nasdem, PKS, dan Demokrat. Prabowo didukung oleh Gerindra dan PKB. Dan, Ganjar didukung oleh PDIP dan PPP. Menariknya, hanya Anies yang mengusung perubahan sedangkan Prabowo dan Ganjar memilih melanjutkan status quo.  Menariknya, bila melihat dan memetakan kondisi masyarakat di Indonesia.  Tokoh-tokoh politik dan penggerak seolah terpecah naya pada dua posisi: oposisi atau koalisi. Oposisi didefiniskan sebagai pihak-pihak yang tidak puas terhapad penguasa dan koalisi adalah mitra berkuasa penguasa.  Dua tawaran ini baik perubahan d...

Abaikan Pendengung

Masih riuh isu politik, hukum dan ekonomi di Indonesia. Ketika dua anak Joko Widodo, Presiden, di adukan ke KPK terkait indikasi money laundry, maka saatnya pendukung dan pendengung bekerja balik menyerang si pelapor. Begitu pun ketika suara akademisi, aktivis lingkungan, tokoh masyarakat mulai mengkritisi kebijakan pindah ibukota hingga muncul penolakan dari masyarakat maka pendengung mulai kerja serang balik dan memindahkan isu utama. Tentu saja, korban terbaru dari pendengung dan pendukung adalah para tokoh kritis yang akan selalu dicari celah salahnya. Maka dari itu, kenalilah siapa saja para pendengung dan abaikan (tidak usah ditanggapi atau didengar/ditonton) narasi dan isu yang sedang mereka utarakan. Semakin mereka dihiraukan semakin terpuruk lingkup kerjanya. Walaupun, ketika satu pendengung sudah ketahuan dan tidak dipercaya lagi oleh masyarakat, akan dimunculkan pendengung baru. Setidaknya, yang bisa kita lakukan "skip" saja setiap narasi pendengung. Fokus saja ke ...

[CAP] HBS, UYM dan Vaksin

CAP (Catatan Akhir Pekan) kali ini membahas ramenya kasus Habib Bahar bin Smit yang tetiba ditahan dengan tuduhan menyebarkan kebohongan pembantaian km50.  Persidangan UYM dengan tuntutan penipuan investasi oleh para korban atau investor nya.  Vaksinasi mulai dilakukan untuk anak-anak, dan muncul beberapa berita yang meninggal pasca vaksin. Siapa yang bertanggungjawab? *** Setelah dibebaskan dari penjara, HBS terus berdakwah dan berceramah didepan jamaah nya yang cukup banyak. Tampil dengan bahasa lugas, HBS dipuji oleh banyak orang karena berani bersuara termasuk menasihati Jenderal Dudung secara publik yang menyatakan Tuhan itu bukan orang Arab. Tak pelak, polemik ini semakin ramai ketika anak buah pak Dudung, ikut-ikutan mendatangi pesantren HBS. A. Fauzi namanya, yang tampil berseragam datang sambil memberi peringatan kepada HBS. Sontak, publik pun ramai kembali mempermasalahkan peran TNI AD ini, dan mengaitkannya juga dengan kasus KKB Papua. Hasilnya, HBS dikandangkan kem...

Masih, Polemik Gerakan Usaha dan Sedekah UYM

Para investor dan pemberi sedekah melalui UYM, satu persatu buka suara dan menyampaikan kekecewaannya. Wajar saja. Satu sisi, UYM terus terusan tampil dengan usaha-usahanya baik di saham dan lainnya. Bahkan dengan terang-terangan bisa ratusan juta bayar pajaknya dari usahanya. Tentu saja, inilah yang membuat para investor dan penyedekah mulai bertanya-tanya, mengapa tidak mendapatkan bagian bagi hasilnya. Lalu, dari mana uang UYM sebanyak itu?. Tidak sedikit yang curiga, perusahaan Investasi dijadikan "money laundry" dari para penyedekah dan investor. UYM pun siap membuktikan bahwa tuduhan itu semua salah dan siap dipengadilan. Apapun polemik ini, setidaknya efek terhadap dakwah sedekah melalui UYM mulai turun trust nya. Banyak yang mulai memutar kembali video lama UYM yang meminya jamaah untuk bersedekah agar bisa dapat Beratus kali lipat imbalannya. Sekarang, konsep itu ditantang oleh jamaah, agar UYM menyedekahkan semua hartanya agar dapat imbalan berkali lipat. Menyimak p...

Antara Dakwah Sedekah dan Patungan Usaha UYM yang Dipermasalahkan

Akhir ini, mencuat kembali protes dan tuntutan peserta investasi yang digalang oleh Ustadz Yusuf Mansur. Dari informasi dari sosmed testimoni peserta yang kecewa di YouTube, didapatkan bahwa banyak hal akad syar'i yang tidak jelas sejak awal. Bahkan, bila didengarkan jawaban dari UYm sendiri, diakuinya dalam membangun proyek nya, kekurangan dana diambil dari perbankan sehingga UYM harus bayar bunga bank tiap bulannya. Secara pribadi, saya sendiri sepakat dan menerapkan power of sedekah. Namun, saya tidak pernah ikut program apapun dari UYM, meski pernah ikut ceramahnya. Sedekah itu urusannya hamba dengan Sang Pencipta, sehingga memang baiknya ikuti aturan Ilahi bagaimana mendistribusikan nya. Kerancuan konsep sedekah, gerakan usaha (untuk memiliki aset ummat) dan investasi menjadi akar masalah nya. Dalam Islam, bila kita bekerjasama atau kolaborasi usaha maka harusnya ditentukan jenis akadn syirkah nya (mudhorobah, inan, dll). Lalu gerakkan memiliki aset ini juga kurang jelas, uang...

Trending: G30SPKI, Kesaktian Pancasila dan Poligami

Jagad Twitter Indonesia sedang trending dengan G30SPKI, Kesakitan Pancasila dan Poligami. 30 September juga jadi SK "dipecatnya" pegawai KPK yang dianggap tidak lulus tes wawasan kebangsaan, aneh. Tak ada pembelaan dari institusi pemerintah bagi mereka. Netizens berhasil menggalang opini sehingga istana khususnya kepresidenan bingung meresponnya. Awalnya mendukung pimpinan KPK yang memecat mereka, lalu diarahkan ke kepolisian untuk menampung pegawai yang dipecat. Ditambah lagi, Jenderal Gatot mengangkat bahayanya kebangkitan komunis yang telah menyusup di kekuasaan termasuk di TNI. Museum G30SPKI di Kostrad mendadak ramai karena hilangnya patung tokoh TNI yang memerintahkan untuk menumpas PKI. Muncul gerakan pasang bendera setengah tiang yang masih di masyarakat oleh netijen untuk mengenang pahlawan yang dibantai PKI. Dan pada 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila dipasang bendera satu tiang penuh sebagai tanda kemenangan dari komunisme. TVRI yang menjadi corong pemerint...

Demokrasi Meresahkan?

Para aktivis demokrasi di Indonesia mulai resah dan gelisah. Bahkan, ada istilah baru dari kondisi tersebut, demokrasi brutal. Penguasa dianggap bersembunyi dengan proses demokrasi namun memperjuangkan kepentingan oligarki. Kepentingan rakyat tak direspon dengan benar. Banyak kematian akibat protes atau demo kepada penguasa, namun dibiarkan seolah tak ada yang salah dengan pelanggaran HAM yang terjadi. Ruang diskusi dan berpendapat dibatasi, dengan mudah menggunakan UU ITE untuk menjerat para kritikus.  Inilah sedikit keresahan dari para aktivis. Wajah nya demokrasi prosedural, realita nya secara brutal memaksakan kepentingan oligarki kepada rakyat bahkan rakyat tak diberi pilihan kecuali menerima meskipun itu menderita. Bagiamana politik dan ekonomi sudah dikuasai secara "brutal", tak pernah lagi aspirasi publik didengar. Begitulah pendapat salah satu aktivis demokrasi. Setujukah?

Apa itu Komunisme?

Hari ini, "komunis" menjadi kata trending di Twitter. Banyak netizens yang mencuit perihal komunis. Apalagi ini bulan September, ada sejarah kelam bangsa Indonesia di tahun 1965, yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September PKI (Partai Komunis Indonesia). Menjadi trauma bangsa, bagaimana PKI memperjuangkan komunisme menjadi ideologi bangsa dan negara menjadi negara komunis. Dibelahan bumi manapun, kalian yang mau membaca sejarah negara yang berideologi komunis, pasti ada sejarah berdarah masa lalu, bagaimana penguasa nya rela membunuh warga nya yang menolak atau menjadi ancaman komunisme. Lihatlah di Unisoviet, RRC, Vietn, Korea Utara dll yang beraliran komunisme. Mengapa penguasa yang berideologi komunis begitu kejam hingga rela membantai warganya sendiri yang menolak komunis?  Peletak ide ini adalah Karl Marx, meskipun bukan ia seorang. Buku dan tulisannya menjadi masterpiece bagi penganut sosialisme, bisa disebut kitab sucinya lah. Meskipun ia sendiri keturunan Y...

#stopisuradikalisme Trending Hari Ini

Tagar stop isu radikalisme (#stopisuradikalisme) menjadi salah satu trending tagar di Twitter. Hal ini muncul dimungkinkan karena narasi setiap penyelenggara negara dalam setiap kesempatan yang dibicarakan adalah radikalisme. Meskipun masyarakat mayoritas tidak paham apa yang dimaksudkan oleh penguasa. Dari sisi rakyat kebanyakan, radikalisme adalah kemiskinan struktural, teror penyakit dan harus vaksin, bahkan pola hidup permisif seperti LGBT, intoleran pada mayoritas menjadi isu radikal yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Agenda dan isu radikalisme yabg diusung penguasa memang bisa berbesa dengan isu radikalisme dikalangan rakyat kebanyakan. Bagi penguasa yang berpandangan sekulerisme atau komunisme, orang atau kelompok masyarakat yang berpandangan taat agama menjadi tertuduh radikalisme yang akan menjadi sasaran penguasa. Begitu pula sebaliknya, rakyat yang melihat penguasa cenderung jauh dari agama adalah penguasa yang radikal, sangat berani menjadi saingan Sang Maha Kua...

IBHRS Tahanan Politik?

Hari ini mulai trending #IBHRS_TahananPolitik. IBHRS merupakan singkatan dari Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Membaca dan melihat kasus IBHRS memang tidak bisa dilepaskan dari kasus Pilkada DKI Jakarta. Seperti yang pernah diutarakan IBHRS sendiri bahwa ada dendam politik. Seperti diketahui, kalahnya Ahok oleh Anies, ada andil kekompakan ummat Islam di DKI Jakarta untuk menolak pemimpin kafir (tertutup oleh sesuatu sehingga tidak mau beriman). Ditambah lagi, keceplosan si Ahok dalam Dinasnya memberikan pidato atau arahan menyinggung perihal Alquran (out of context) sehingga diadili, dihukum sebagai pelaku penistaan agama. Saat itu, ormas terdepan dalam edukasi ummat Islam adalah FPI dan HTI, yang kemudian hari dibubarkan juga oleh penguasa. Ahoker garis keras tak tinggal diam, selalu membuat isu dan propaganda di sosmed mengenai musuh politik Ahok dkk tsb. Hasilnya, HRS harus rela hidup di Mekkah dan sekembalinya ke Indonesia harus menghadapi berbagai skenario, termasuk wafatnya 6 oran...

Matinya Empati Penguasa? Belajarlah dari Khulafaur Rasyidin

Hari ini #MatinyaEmpatiPenguasa trending di Twitter. Hal ini terkait dengan naiknya harta kekayaan pejabat negara yang melimpah ruah dan fantastisnya anggaran yang diterima wakil rakyat berdasarkan pengakuan Krisdayanti. Disisi yang lain, kehidupan orang miskin di Indonesia sangat memprihatikan. Banyak orang tak mampu mengakses makan, sandang dan papan. Menyedihkan. Gap antara tuan kaya dan orang papa, bak langit dan bumi. Trending juga, Umar bin Khattab, salah satu Khulafaur Rasyidin yang hidupnya sangat berempati pada rakyat nya. Hal ini juga diteruskan oleh cicitnya, Khalifah Umar bin Abdul Azis, yang memilih hidup bersahaja dengan tunjangan negara secukupnya untuk hidup saja, namun semuanya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Sangat disayangkan, sosok Umar ini, hanya dijadikan kampanye ketika pilpres atau pilkada. Selebihnya, tak ada yang menyerupai bahkan keinginan untuk menirunya. Umar bisa berempati pada rakyat karena itu tuntutan syariat. Umar paling takut ketika ada k...

Demokrasi Biang Kezaliman?

Melihat kondisi politik, ekonomi, kesehatan, keamanan, kedamaian dan sosial masyarakat di Indonesia, tak ada salah jika ada pihak yang melihat nya sebagai hasil berdemokrasi. Karena selama ini, bangsa Indonesia memang menerapkan sistem demokrasi. Memilih presiden, gubernur, bupati dan wakil rakyat dengan cara demokrasi. Otomatis hasil kinerja dan aturan yang dibuat berdasarkan mekanisme demokrasi. Wajar lah, jika ada hasil hukum yang tidak adil, ini lah produk demokrasi di Indonesia.  Kerumunan oleh rakyat kecil atau musuh politik, pasti dengan tegas ditindak. Beda jika yang buat kerumunan di masa pandemik adalah penguasa, am dari delik hukum. Ya inilah realita demokrasi. Ketika diumumkan kekayaan penyelenggara negara yang naik begitu cepat sedang kan kaum miskin bertambah, ya inilah ekonomi demokrasi di Indonesia. Itulah realita nya ketika diterapkan hasil demokrasi. Kebebasan berpendapat? Dijamin dalam sistem demokrasi. Silahkan berpendapat dan mengkritisi. Bila penguasa tak berk...

Netizens Melawan Pendengung?

Hari ini viral komentar Diaz Hendropriyono dan Dedy Corbuzier perihal anak-anak penghafal Al-Qur'an yang menutupi telinganya karena tidak mau terdistraksi oleh musik. Pembelaan netizens dan ingluencer berakal sehat langsung membuat tandingan dengan cara satire. Bermunculan video orang-menutup telinganya ketika diperdengarkan pidato kampanye presiden.  Diaz dan Dedy mungkin secara tidak sadar telah menunjukkan intoleransi, bahkan dengan nyata terjangkit islamophobia?. Mereka yang sejak kecil memperdalam ayat-ayat Allah SWT dengan menghafal, memahami, mengamalkan dan mensyiarkan, pasti lah menjadi orang yang penakut untuk berbuat buruk seperti berjudi, membunuh, korupsi, berbohong, makelar SDA rakyat. Karena perbuatan tercela itu sudah mereka ketahui sejak dini dan untuk diingkari karena takut akan Tuhannya. Berbeda dengan orang yang tak kenal ajaran agama, membunuh, berbohong, menipu, menjilat, menjual bangsa demi berkuasa pun akan dilakukan. Pada Allah saja mereka tidak takut, apal...

Bongkar Dalang Tragedi KM50?

Jagad Twitter kembali diramekan oleh tagar #BongkarDalangTragediKM50.  Peristiwa 6 Desember 2020 ini memang belum usai karena peristiwa itu telah menghilangkan banyak nyawa, namun tak ada yang dihukum sebagai pelaku dan dalang nya. Tragis bila mengingat dan melihat foto korban yang diotopsi, mengalami penyiksaan dan pembantaian. Terhitung sudah 9 bulan kasus ini, meski sudah ada para ter ada tersangka nya, tak jua disidangkan. Bahkan sampai ada Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) yang telah menerbitkan Buku Putih Pelanggaran HAM Berat, tetap saja kasus ini seolah didiamkan.  Mengapa begitu mudah nyawa dihilangkan? Mengapa pelaku penghilang nyawa tak segera dihukum berat?  Mengapa keluarga korban diabaikan jiwa dan raganya karena merasakan rasa ada sakit dan dendam melihat orang tersayang nya dibantai? Ketika keadilan sudah tiada, kemana harus dihidupkan?

Ramenya Dunia Politik, Kudeta Partai?

 Hari ini, buzzer menaikkan tagar #KetumDemokratMoeldoko. Sepertinya cerita "kudeta" partai Demokrat masih berlanjut. Sejak awal, peta politik memang dinamis. Namun, kini mau di harmoniskan atau diminimalisir adanya oposisi. Partai Demokrat menjadi salah satu ganjalan, karena SBY dan partai demokratnya masih ambigu, kadang pilih ditengah, kadang tak memihak, cari aman. Perhitungan politik kedepan, jika Partai Demokrat bisa dikuasai maka perlememen bisa dimenangkan secara mutlak. Agenda politik untuk berkuasa akan lebih mudah dijalankan. Itulah perhitungan kekuasaan. Bila pun harus ada konflik dan yang dikorbankan, dianggap sebagai sebuah hal biasa.  Partai demokrat, SBY dan AHY tentu saja tidak tinggal diam, pasti melakukan perlawanan dan pergerakan. Politik akan selalu gaduh. Terus terang, sebagai rakyat biasa, apa yang terjadi dalam isu yang diusung partai politik tak pernah seirama dengan agenda rakyat. Tak begitu banyak yang peduli. Hanya menonton kegaduhan perebutan keku...

Antara Pandemi dan Bisnis Industri Kesehatan

 Pandemi covid19 masih terus berlarut-larut, setiap ada vaksin baru maka muncul pula varian baru. Setelah peredaran dan bisnis alat tes covid berhasil meraih keuntungan fantastis, kini vaksin menjadi barang dagang mahal yang diperebutkan. Meskipun, vaksin yang beredar dinilai sebagai obat dalam emergency tanap tahapan tes sempurna, karena semua ingin keluar dari pandemi. Teknologi vaksin ini bukan hal baru, termasuk salah satu cara untuk keluar dari pandemi. Sayangnya, kita lihat pererdaran dan produksi masal oleh industri kesehatan dunia menjadi barang dagangan menggiurkan di dunia ketiga atau negara berkembang. Bila di negara maju, pemerintah memastikan keamanan vaksin yang akan diberikan dan memberikan vaksinnya secara gratis karena itu hak setiap warganya.  Misalnya, ketika pemerintah Jepang membelikan vaksin bagi warganya dari vaksin yang efikasinya yang tertinggia, suatu ketika ditemukan ada zat asing yang mengkontaminasi vaksin moderna. Tanpa memperhitungkan kerugian, p...

Sholawat Asyghil

Sholawat asyghil menjadi masyhur kembali. Sholawat ini ditengahnya berisikan doa bagi pelaku kezaliman. Sholawat ini, ada yang mengatakan dipanjatkan oleh Imam ja’far Ash-Shodiq yang wafat 138 H. Beliau hidup di masa Umayah dan Abassiyah yang secara politik kekuasaan tidak stabil sehingga penuh konflik antara penguasa dengan rakyatnya. Sholawat ‘Asyghil’ ini juga dikenal dengan sebutan Sholawat ‘Habib Ahmad bin Umar al-Hinduan Baalawy’ (wafat 1122 H). Dikarenakan sholawat ini tercantum di dalam kitab kumpulan sholawat beliau, ‘al-Kawakib al-Mudhi’ah Fi Dzikr al-Shalah Ala Khair al-Bariyyah’. ( sumber:blog.al-habib.info ). Di Indonesia, sholawat ini populer oleh KH Abdullah Syafi’i (wafat 1406 H) dalam setiap siaran radio As Syafiiyah, dibawah asuhan ponpesnya. Sekarang, sholawat ini kembali populer ditengah karut marutnya politik ummat Islam. Pilkada DKI berefek mengkubunya secara politik. Bahkan tokoh-tokoh ummat Islam sangat kentara mana yang mendukung Pemimpin non muslim (kafir) da...

Kebebasan dan Toleransi di Era Sekulerisme

Sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) menjadi persoalan krusial bagi kehidupan manusia. Meningkatnya kesadaran beragama menjadi pengusik sekulerisme, sehingga terus menjadi perbincangan publik. Geliat kegiatan keagamaan di ruang publik, menggairahkan masyarakat untuk menjadikan dirinya berserah kepada aturan Tuhannya. Tentu saja, ini bertolak belakang dengan prinsip-prinsip sekulerisme yang membatasi agama hanya di ranah privat, haram tuk di ruang publik. Polemik berkepanjangan ini masih dimenangkan oleh sekulerisme karena prinsip-prinsip sekulerisme diadopsi oleh negara dan perangkatnya. Sebagaimana prediksi Huntington, akan terjadi perang peradaban antara ideologi khususnya kapitalisme (sekulerisme) dengan Islam. Akhir-akhir ini, ramai sekali aksi-aksi terorisme baik dengan kekerasan maupun verbal. Entah darimana datanganya, tiba-tiba polisi menjadi sasaran sang teroris. Konon katanya, karena ketidakadilanlah sebab munculnya kekerasan tersebut. Di sisi lain, Indonesia juga ma...

Model Baru Perang di Media Sosial

Mencuatnya kasus Ahok dengan tuduhan penistaan agama dan event pilkada DKI semakin ramainya perang opini di Media Sosial. Bahkan, opini yang dibangun mengarah kepada informasi bohong (hoax) yang berujung dengan fitnah. Fitnah yang disebar pun bukan hanya karena unsur benci namun sudah menjadi bagian dari perang opini. Baru-baru ini, aksi ummat Islam menuntut Ahok agar segera ditahan, menjadikan ada arus gerak bersama dikalangan ummat Islam untuk membela agama dan ulamanya. Ketika ada perusahaan roti yang memberikan pengumuman perihal ketidakterlibatannya dalam aksi ummat Islam dan ada kesan menuduh ummat Islam sebagai gerakan radikal, di media sosial muncul gerakan boikot yang membuat turun saham perusahaan. Begitu pula dengan dua TV nasional yang terkesan dikalangan ummat Islam selalu menyudutkan ummat ini, muncul juga gerakan boikot TV tersebut sehingga ratingnya pun turun.

Menuju Kedaulatan Pangan di Tahun 2019

Salah satu visi misi pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah mewujudakan kedaulatan pangan. Ada beberapa hal yang akan dan sedang dilakukan diantaranya: pembangunan dan perbaikan infratruktur pertanian, bantuan alsintan, subsidi pupuk, benih dan pestisida, dan pemberdayaan penyuluhan pertanian. Komoditas-komoditas utama yang menjadi target swasembada dan pemenuhan produksi dalam negeri yaitu: padi, jagung, kedelai, jagung, tebu, cabai, bawang merah dan  daging sapi/kerbau. Komoditas-komoditas tersebut menjadi sasaran utama dalam pembangunan pertanian. Sebagai bentuk keseriusan pemerintah Jokowi-JK, anggaran Tahun 2015 Kementerian Pertanian dinaikkan menjadi dua kali lipat dibanding tahun 2014, sebesar Rp 32 triliun. Dengan penambahan uang yang sangat besar tersebut maka diharapkan kinerja kementan dan instansi-instansi pertanian lainnya harus meningkat 100% dibadningkan sebelumnya. Disinilah letak vitalnya bagian perencanaan pertanian. Semua proses ...