Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Motivasi

Kamu yang sekarang adalah Takdir dan Pilihan

 Sejenak coba renungkan bahwa Kamu adalah produk dari semua pilihan dan takdirmu.  Bagi seorang muslim, tentu sudah familiar dengan konsep takdir atau ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Maha Pencipta. Tak ada yang bisa dilakukan dalam masalah takdir ini kecuali kita mengimaninya dan menerimanya dengan sepenuh hati. Namun demikian, tidak sedikit dari kita yang muslim ini salah paham terhadap konsep takdir. Ada yang berpandangan bahwa semuanya ini tak ada keterlibatan kita sebagai manusia, semua sudah ditakdirkan, padahal itu menyangkut perbuatan manusia yang pasti ada pilihan dan konsekuensinya. Dulu, pernah salah paham terhadap takdir ini dan akhirnya salah pilih dan salah ikhtiar. Pernah berkeyakinan jika memang ditakdirkan kuliah di UGM atau IPB, maka belajar atau tidak maka pasti masuk. Ternyata salah, karena syarat diterimanya masuk UGM atau IPB cukup banyak, mulai dari mendaftar lalu ujian dan harus lulus dengan nilai yang ditentukan. Harusnya, opsi yang dilakukan adala...

Mencukupkan Kepada Enam Perkara Ini

 Sebuah pelajaran dari Hatim Al-Asham yang diserap dari gurunya, Syaqiq Al Bakhi, selama 30 tahun bersama.  1. Banyak manusia ragu terhadap jaminan rezeki yang Allah berikan. Padahal, jaminan Allah itu bersifat pasti. Maka, jangan sibukkan hatimu dari perkara yang sudah pasti. 2. Setiap orang punya teman. Maka, jadikalnlah amal sholih sebagai teman terbaik yang akan menemani dan sekaligus penolong dalam hisabNya. 3. Setiap orang memiliki musuh. Maka, jadikanlah musuh bila engkau berbuat taat kepada Allah sedangkan ia menggodamu untuk bermaksiat atau menghalangimu dari ketaatan. 4. Setiap manusia dituntut dan yang menuntut malaikat maut. Maka, luangkanlah waktu untuk bersamanya, mengingat kematian sehingga saatnya nanti sudah siap untuk dijemput.  5. Menafikkan hasad dan meridhoi dengan mengasihi semua orang selaykanya mengasihi diri sendiri. 6. Setiap tempat yang didiami pasti akan ditinggalkan. Tempat kembali semua orang adalah kuburan yang dibaliknya hanya ada surga dan...

Ingatlah Lima Hal ini, Bila Mau Bermaksiat

 Manusia itu sering lupa, ketika mendapatkan kenikmatan malah digunakan untuk membangkang kepada Sang Pencipta. Senantiasa berulang-ulang bermaksiat meski diberi banyak kesempatan untuk berhenti. Efek maksiat atau perbuatan dosa memang adiktif, nagih pelaku untuk mengulanginya. Menjaga kesadaran diri dan kembali kepada jalan yang benar sesuai tuntunan Sang Maha Pengatur tak semudah yang diangankan bia sudah berkubang dalam enaknya kemaksiatan.  Ada beberapa hal yang perlu diingat dan dipikirkan bila kita ingin berhenti dari kemaksiatan. Bila mau bermaksiat pada-Nya: 1. Janganlah makan dari rezeki-Nya, 2. Janganlah tinggal di negeri-Nya, 3. Carilah tempat dimana Allah tak melihat perbuatanmu, 4. Apabila malaikat maut datang padamu, maka katakan padanya untuk menunda pencabutan nyawamu, dan 5. Ketika malaikat Zabaniah menjemputmu untuk memasukkanmu ke neraka, maka janganlah pergi bersamanya. Lima hal tersebut bila selalu dipikirkan setiap mau bermaksiat, niscaya akan mencegah un...

Seperti Kehilangan Tujuan

 Menjaga kesadaran diri bahwa kita ini hanyalah hamba Allah, yang akan kembali kepada-Nya, ternyata memang tak semudah itu dalam menjalani kehidupan dunia ini. Tak semudah itu, kita mengaku beriman namun tanpa ada ujian dan cobaan. Banyak yang secara sadar atau tidak sadar, kalah dan gagal dalam setiap ujian hidup dan memilih untuk mengikuti jalan setan. Terlalu keasyikan dan nyaman dalam hidup yang sebenarnya bukan jalan yang diridhoi Sang Pencipta. Itulah fatamorgana kehidupan. Sisa-sisa kesadaran diri ini, haruslah ditindaklanjuti dengan keluar dari zona nyaman yang merusak. Karena nur illahi takkan pernah masuk kedalam kehidupan yang kotor dan penuh maksiat. Maka, seharusnya larilah menjauh dari dunia maksiat, dan pindah mendekat kepada dunia ketaatan. Tak perlu mencari dalilh dan reason mengapa terpuruk dan memilih diam. Lebih baik, berpikirlah apa yang bisa dilakukan dan bermanfaat di jalan ketaatan. Bila diberi kesempatan untuk upgrade diri, maka lakukanlah dengan bersungguh...

Segera Bangkit dari Kefuturan (Malas setelah Giat)

 Merasa bosan dan terpuruk, seolah kehilangan kebiasaan posistif yang selama ini telah dibangun. Mencoba mencari sebabnya. Mengapa kemalasan selalu menerpa. Seolah tak punya target dan tujuan. Meskipun tahu, enggan untuk melangkah dan berjuang mencapainya. Mungkin inilah yang disebut penyakit hati. Kemalasan dimulai dengan meninggalkan kabiasaan membaca, menambah ilmu baru dan merenungkannya. Dilanjutkan dengan kemalasan untuk menambah ibadah sunnah seperti puasa. Secara spiritualpun sedang down. Malas setelah giat. Istilahnya Futur. Banyak hal sebabnya, salah satunya lingkungan yang tidak mendukung atau terlalu toxic.  Mencoba mengatasinya, dengan bangkit kembali, dengan memperbaiki hati, lebih mendekat kepada Ilahi. memperbanyak dzikir dan menghindar dari lingkungan toxic. Memulai kembali kebiasaan positif mulai dari pagi hingga tidur kembali. Mencoba sesibuk mungkin sehingga tak sempat untuk berpikir negatif.  Mentransformasi kebiasaan memang tak semudah yang diceritak...

DR. Strange in The Multiverse of Madness, sebuah catatan

Sebuah reviu tentang nonton film terbaru DR. Strange di Jepang. Sebelum sedikit cerita tentang filmnya, sedikit cerita tentang perilaku orang Jepang ketika nonton film. Tidak ada suara dan gerakan mengganggu antar penonton. Tak ada gelak tawa meski ada kelucuan. Tak ada diskusi antar penonton, apalagi tendangan kaki ke tempat duduk didepannya. Uniknya, ketika film telah usai dan tersisa kumpulan daftar pemain dan supporting film, penonton Jepang pun dengan tenang menunggu sampai benar-benar berakhir. Sebuah penghormatan kepada sinea perfilman. Primer film DR.Strange dengan diskon ternyata tak rugi juga tuk ditonton. Film fiktif dengan banyak propaganda dan aksi animasi digital memukau. Alur cerita hayalan tingkat tinggi yang sebagian orang meyakininya. Pada film ini, sangat suka pada Elisabeth Olsen, yang memerankan dengan dua karakter yang berbeda sekaligus. Sebagai penyihir jahat siap membunuh siapa saja demi cinta. Dan sosok ibu yang sangat cinta kepada anaknya. Cukup romantis dan...

Free Guy, Sebuah Reviu

Film free guy jadi film box office minggu ini. Cukup menarik, mengambil cerita kekinian tentang dunia games yang ditopang oleh Artifisiall Intelijen. Dalam dunia games "free city", nama game online tersebut, Guy hanyalah pemain background atau latar yang setiap hari hanya menjalankan rutinitas bangun, ganti baju, jalan ke kantor, beli kopi, ketemu teman kantor, sampai ke kantor (bank), melayani customer dan jika ada perampokan, hanya diam tak melawan. Tiba-tiba, guy melihat gadis yang disukai nya, salah satu tokoh pemain game online. Muncul perasaan untuk berubah rutinitas nya dan mengejar gadis impian tersebut. Mulai muncul keanehan, Guy bisa menjadi tokoh pemain karena mengambil kacamata pemain lain. Ini membuktikan, Artificial Intelijen bekerja dalam game tersebut. Sebuah keberhasilan bagi programmer nya. Dari sisi cerita, film ini memuat pesan sekulerisme dan sosialisme secara gamblang. Hal ini bisa mempengaruhi akidah penonton tanpa disadari. "Tuhan" dicerminka...

Pijati Ibumu

Duh, Irinya hati ini bila melihat orang-orang yang masih memiliki orang tua. Ada ladang pahala yang begitu mudah dan dekat. Menyesal, ketika menyadari waktu lampau saat ortu masih ada, mengapa tidak all-out menyenangkan nya. Kini, hanya doa dan niat baik yang bisa kuhaturkan. Setiap kebaikan yang bisa kupersembahkan pada ortu, hanya niat yang kuwakilkan buat mereka. Muhammad bin Al Munkadir rahimahullah mengatakan, "Semalam suntuk kupijat kaki ibuku. Sedangkan saudaraku Umar semalam suntuk mengerjakan sholat. Aku tidaklah gembira andai malamku digantikan dengan malam saudaraku".  Memijat ibu itu lebih baik dibandingkan sholat malam semalam suntuk. Menyenangkan ortu lebih baik daripada sholat Sunnah. Berbakti pada orang tua hakikat nya membuat mereka bahagia, termasuk jika itu hanya memijat kaki ibu.  Mentaati perintah ibu, ketika ia meminta untuk dipijat merupakan amal sholih.  Yuk, kalian yang masih punya orang tua, berbaktilah. Buat mereka bahagia dan tak pernah menyesa...

Kedewasaan Berorganisasi

Organisasi itu kumpulan orang-orang dengan berbagai karakter dan kepentingan yang memiliki kesamaan sehingga bersepakat bekerjasama dengan aturan yang ditetapkan. Salah satu ciri kedewasaan adalah mampu menyelesaikan konflik-konflik yang ada. Alkisah, disebuah negeri Sakura, berkumpul anak muda yang suka olahraga. Mereka membentuk klub dengan tujuan bisa mengumpulkan orang yang suka olahraga dan menambah relasi. Dimulailah latihan demi latihan, dan semakin banyak yang bergabung. Muncul kepentingan dan motivasi masingmasing peserta. Ada yang pingin bener latihan sehingga butuh banyak jam latihan, ada yang hanya ingin cari keringat dan berkomunikasi dengan sesamanya, mencari pertemanan. Disinilah perang leader, bagaimana memutuskan arah organisasi, apakah menjadi klub olahraga penghasil atlet, atau hanya penyalur hobi dan silaturahmi. Seiring membesar nya organisasi, orang-orang yang berbeda haluan pasti memilih menepi dan keluar. Itu biasa. Itulah ciri kedewasaan, semakin banyak konflik...

Berhijrah 1443 H

Saatnya kita semua berhijrah, dari maksiat kepada ketaatan. Setiap dosa, taubat segera dilakukan.  Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah menjadi peristiwa penting sehingga dijadikan awal bulan penanggalan Islam. Sejak di Madinah, Rasulullah SAW memimpin masyarakat dengan Islam meski pluralitas tetap ada, bahkan kaum majusi pun eksis meskipun minor. Kita harus bersyukur, bisa diberikan kesempatan untuk bertaubat. Semoga ini adalah h ini hijrah menuju kebaikan. Meninggalkan masa lalu kelam penuh noda. Bersimpuh diri meratap segala khilaf, demi sebuah harapan ampunan Illahi.  Perbanyak ibadah, perbanyak kebaikan. Sibukkan diri dengan ketaatan. Jauhi kejahatan dan dosa nista.  Hijrah. Momentum terbaik untuk berubah ke arah lebih baik. Sebagai seorang muslim, sibukkan dengan belajar Alquran, menghafal dan memahami, melaksanakan dan mendakwahkan. Tidak ada cara lain, selain bersungguh-sungguh untuk taat kecuali bertaubat dan berlomba kebaikan. Jika masih ada wa...

Bersabar dan Bersyukur di Era Pandemi

Pandemi belum reda. Bahkan terkesan mengganas. Ada yang salah. Tata kelola seperti tak jelas, bingung dan panik. Ada yang bilang, hanya untuk menghindari kewajiban karantina, kata lockdown dihindari oleh pembuat kebijakan. Bagaimana kita sebagai muslim menyikapinya?. Secara pribadi, sebagai bentuk sabar kita maka, menjauhi sumber penyakit dan wilayahnya. Selaku taat menjaga protokol kesehatan. Menghindari kerumunan dan selalu menjaga jarak. Bentuk kesabaran kita adalah taat syariat terkait dengan pandemi ini.  Secara kelompok ditengah masyarakat, senantiasa ada kelompok yang saling menjaga agar aturan terkait solusi pandemi ini dijalankan.  Secara bernegara, tentunya menjalankan syariatNya dalam melayani segala urusan rakyatnya. Sebagai bentuk bersyukur kita tentu saja saling membantu dalam meringankan ujian pandemi ini. Bentuk syukur kita dengan kesehatan dan usia yang diberikan, dengan bersungguh-sungguh mengabdi kepada Sang Pencipta. 

Pola Pendidikan di Perkuliahan Jepang

 Ada dua periode penerimaan dalam setahun, di bulan spring (April) dan di bulan autumn (September). Setiap mahasiswa akan mendapatkan langsung dosen pembimbing untuk skripsi/thesis/desertasinya. Mereka akan diasuh satu Professor sekaligus pengelola/leader laboratorium. Untuk mahasiswa S1 harus banyak ambil SKS (mata kuliah), yang bisa lintas lab dan biasanya satu kelas pun hanya 10-20an orang. Apalagi dengan adanya pandemi covid, kelas hanya dihadiri 50% kapasitas ruangan. Untuk konsultasi penelitian, akan ada kelas seminar yang diadakan oleh laboratorium nya sebulan sekali, dengan masing-masing mempresentasikan progres penelitian nya. Disitulah pembimbing nya terus memantau danengarahkan. Untuk S2, jumlah mata kuliahnya lebih sedikit daripada S1. Dan untuk mahasiswa S3, tak banyaka mata kuliah pilihan yang harus diambil, mungkin hanya 2 mata kuliah, selebihnya penelitian. Dengan target publikasi ilmiah.  Di Indonesia, secara kurikulum lebih berat, banyak mata kuliah yang haru...

Tentang Rezeki

Sore itu, tetiba ada pesan masuk yang mengkabarkan ada kurang transfer. Padahal, sudah lupa dan tidak pernah cek lagi apakah sudah di transfer atau belum. Dikabarkan agar dicek apakah benar jumlah transferannya, ternyata baru ngeh juga jika kurang. Itulah rezeki. Salah satunya memang harta kepemilikan. Namun, lebih luas dari itu. Rezeki itu pemberian Allah kepada kita, bukan hanya harta dan tidak harus dimiliki. Ketika kita butuh kendaraan, kita bisa menyewa atau tetiba ada yang meminjamkan. Peluang dan kesempatan itu juga rezeki. Waktu di dunia juga rezeki. Manfaat kanlah waktu untuk bertaubat dan taat. Tiada kenikmatan yang diberikan Allah, ketika kita banyak maksiat, masih diberikan kesempatan bertaubat. Manfaatkan lah rezekimu sebaik mungkin. Bukan hanya untuk disini, berorientasi lah ke kampung halaman. Tempat kembali semua orang. Sebelum nafas di kerongkongan dan matahari terbit dari barat, maka pintu taubat terbuka. Bersungguh-sungguh lah meninggalkan dan menyesali segala perbua...

Menulis Untuk Siapa?

Bila ditanya kan seperti itu, maka jelas saya jawab, blog ini untuk diri sendiri dulu. Standar tulisan adalah standar pribadi. Tempat mencurahkan isi pikiran dan catatan memori. Ketika ada suatu hari saya baca kembali maka akan mengembalikan pengetahuan. Selain itu, blog ini menjadi tempat latihan yang sangat mudah dan praktis. Banyak tulisan tercipta, ketika duduk di kereta, diantrian, atau sedang break dari kesibukan rutinitas. Saya percaya, setiap penulis itu adalah pembaca. Namun, tak semua pembaca yang berani untuk menulis. Banyak keraguan dan keengganan. Karena menulis pun butuh motif.  Melatih otot dan syaraf menulis butuh tahapan dan rutinitas sehingga bisa naik kelas. Setiap saat harus terlatih berpikir mencari ide untuk dituliskan. Ketika ada ide sedikit pun tak boleh dilepaskan. Langsung tuliskan.  Bila sebagai pemula, langsung minta sanjungan. Terlalu naif. Karena saya bukan anak pembesar dan tokoh berpengaruh. Saya hanya butuh latihan dan jam terbang.  Untuk ...

Mengapa Saya Menulis?

Karena saya bukan anak pembesar atau tokoh berpengaruh. Menulis juga menjadi bukti perjalanan kehidupan. Bisa berbagi informasi dan pengetahuan. Setidaknya saya bisa mengukur perubahan diri dari tulisan.  Membaca setiap tulisan di blog ini seolah terbawa dalam pola perkembangan jaman dan pengaruh di kehidupan. Cara menulis dan merangkai kata, mengingatkan kepada karya tulisan yang pernah di baca. Saya akan tetap menulis, karena mengasyikkan. Bukan untuk belajar bagaimana tata cara menulis. Tapi, untuk belajar menulis ya dengan langsung menulis. Ada suatu keinginan kuat tuk jadi penulis. Syaratnya mudah, hanya dengan menulis. Prosesnya lah yang cukup berat. Penuh dengan latihan dan konsistensi. Terus menghasilkan tulisan. Sekalinya berhenti menulis, hanya menjauhkan dari keinginan. Tak ada yang bagus dengan cara instan. Semua ada proses. Semua ada waktunya. Bila mau bisa bersepeda, pingpong, badminton, dan apapun, pasti butuh pembelajaran yang rutin. Tanpa kepayahan, mustahil akan j...

Ciptakan Hobi Membaca

Membaca itu perlu dijadikan hobi, kebisaan dan kebiasaan. Coba lihat di negara maju. Target membaca buku, dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Tak heran, jika kita melihat kebiasaan yang berbeda dengan di Indonesia. Disinilah tantangannya. Bagaimana meniru kebiasaan yang baik, menambah ilmu dengan cinta baca. Kedepan, kita semua berharap ada revolusi pendidikan yang bisa menanamkan cinta baca. Sekarang, kita bisa memulainya dari diri sendiri. Teruskan dengan komunitas.  Di era digital ini, sangat mudah menemukan berbagai literatur dan bahan bacaan. Saya memulainya dengan buku bertema yang saya sukai, ada buku motivasi, agama, pertanian dan politik ekonomi. Saya memulai dari yang gratisan dengan join di grup telegram. Agar mudah di baca di gadget dan ukuran file kecil, saya suka file dot epub. Bisa di baca di Play booknya android dan IOS. Tiap hari, mulai melahap satu buku, setebal 100-300 halaman. Itu sangat mudah. Karena gadget tak jauh dari tangan, setiap hari berjam jam pegang...

Global Positioning System (GPS) Kehidupan

  Global Positioning System (GPS) merupakan inovasi teknologi yang sudah banyak digunakan setiap orang untuk membantu mencapai tujuan perjalanannya. Dengan GPS, kita bisa mengetahui jalan mana saja yang akan kita lalui dan perkiraan berapa lama sampai di tujuan. Bahkan, GPS membantu kita memberikan informasi posisi kita apakah sudah sesuai (semakin) mendekati tujuan atau melenceng.   Begitupun seharusnya kita dalam menjalani hidup. Tujuan akhir kita ditentukan dengan kematian (ghaib=misteri) dengan keyakinan bahwa kita kan kembali kepada Yang Maha Kuasa, antara nikmat atau siksa. Tentu saja, kita semua pasti memilih balasan kenikmatan tiada tara dan dijauhkan dari siksaan celaka. Maka, mulailah gunakan GPS kehidupan anda. Tuliskan tujuan akhir hidup anda.   Aku ingin diridhoi Allah SWT dan dimasukkan kedalam indahnya jannah. Seorang ustadz, bercerita padaku maka ketika kita sudah berazzam untuk meminta Ridlo-Nya, tiada lain dengan menggunakan aturan main-Nya. Apalagi jik...

Kutahu yang Kumau

Entah apa jadinya jika kita tak tahu untuk apa hidup di dunia ini. Tak tahu arti hidup bagaikan berjalan tak tahu arah dan tujuan. Kunci kesuksesan dalam hidup ini jika kita tahu tujuan hidup. Sebagai seorang muslim, saya tegaskan bahwa tujuan hidup di dunia ini sebagai Khalifah, pengemban amanah tuk diuji di dunia apakah kuat memegang aturan ilahi atau pembangkang. Tak ada yang lebih agung dari tujuan hidup seorang hamba kecuali Ridlo Illahi.   Sebaik-baik manusia ketika diberi umur panjang, digunakan untuk memperbanyak amal sholih. Disini, jelas bahwa tujuan kita di dunia sangatlah berarti. Hiasilah dengan banyak capaian yang bisa menjadi bekal tuk akhirat. Sebagai seorang anak, maka tujuanya adalah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dengan memperbanyak amal shollih dan prestasi yang membanggakan baik di sekolah maupun lingkungan. Sebagai orang tua, bertujuan mencetak generasi pencinta Allah dan Rasul-Nya. Generasi yang unggul dan pemimpin masa depan. Sebagai pengusaha...

Membangun Prinsip Sang Juara

  Pernahkah anda merasa pesimis dan pasrah terhadap kondisi yang menerpa?. Pernahkah anda kesal terhadap diri anda yang seolah tak bergerak kemana-mana karena menjalani kegiatan yang monoton?. Pernahkah anda mendapatkan kawan yang selalu menanamkan pikiran pesimis bahwa kondisi tak kan bisa berubah, tak perlu bersusah payah merubahnya cukup mengambil kesempatan keuntungan terhadap kondisi tersebut?. Dan anda pun menyimpulkan, jalani saja hidup ini tak perlu bersusah berpikir yang berat, semua sudah ditentukan, yang penting kita happy. Itulah pemikiran dan cara berpikir orang-orang yang terjebak pada zona nyaman, takut perubahan dan tidak siap berubah. Padahal, perubahan adalah sesuatu yang tak terhindarkan, tinggal kita mau menjadi subyek perubahan atau korban dari keadaan. Untuk merubah diri dan orang lain dimulai dari pemikiran atau pemahaman. Seseorang yang berpikiran bahwa sumber kebahagiaan adalah kekayaan atau harta maka menjadikan hidup matinya untuk meraih kekayaan terseb...

Memupuk Jiwa Juara

  Ada yang bilang bahwa attitude merupakan cara sikap kita dalam menghadapi hidup. Ada dua sikap yang bisa dilihat, yaitu sikap positif dan negatif. Attitude yang positif akan menuntun kepada fokus meraih kesuksesan dan sikap pantang menyerah. Kita hidup pasti dihadapkan kepada problema dan kendala, disitulah dibutuhkan attitude yang positif dalam mengatasinya.   Attitude bisa bermula dari pemikiran (ide/konsep/pemahaman) tentang sesuatu hal, bisa disebut dengan cara pandang. Maka, penting pulalah dalam menjaga dan memiliki cara pandang yang positif (positif thinking) dalam membangun attitude positif. Disadari atau tidak, kondisi kita hari ini merupakan hasil dari apa yang dipikirkan kemarin. Berarti, hari esok (masa depan) sangat ditentukan oleh apa yang kita pahami dan lakukan hari ini.  Lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan. Terkadang, kita cenderung untuk menyalahkan masa lalu dan akhirnya tak berbuat apa-apa untuk masa depan. Masa lalu yang kel...