Skip to main content

Andai Kamu Tahu tentang Ulama

Begitu tingginya Allah mengangkat derajat orang yang berilmu, yaitu orang-orang yang Takut kepada Allah karena ilmunya. Sungguh sedih dan miris hati ini, melihat kondisi bangsa yang tercabik dengan perilaku para penista agama dan ulama.

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang berilmu (ulama) itu adalah pewaris dari Nabi-nabi".(HR. Abu Dawud, Ath-thurmdzi dll dari Abi Darda').

Isi langit dan bumi pun selalu meminta ampun untuk orang yang berilmu. Dengan illmu, orang yang mulia akan bertambah mulia. Mulianya orang yang berilmu karena dengan ilmunya ia membawa orang-orang untuk mengetahui apa-apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Wajarlah jika diibaratkan matinya orang yang berilmu (ulama) lebih berharga daripada matinya satu suku bangsa.

Kita bisa lihat kerusakan di bumi ini ditentukan oleh penguasa dan ahli fiqh (agama). Jika mereka rusak maka rusaklah seluruhnya. Namun, bagaimana jika penguasanya yang tidak berilmu? maka ulamalah yang akan selalu mengingatkan dan mengajarkan ilmu kepada penguasa dan rakyat.

Entah apa yang terjadi di negeriku ini, mengapa banyak pengajian-pengajian yang dibubuarkan. Tokoh masyarakat dan ulama banyak terjerat hukum yang kami sendiri gagal paham dalam tuduha-tuduhannya. Bila di China sekrang ini merampas dan melarang mukmin membaca Alqur'an akrena menganggap kitab tsb memuat pemahaman teror, mungkin banyak orang yang bisa paham karena China komunis. Agama adalah candu, konon begitu. Harus dijauhkan dari kehidupan warganya agar tidak malas dan kecanduan. Kami paham, negeri ini bukan negara komunis. Namun sayang, ide komunis bisa masuk ke negeri siapapun selama ada orang-orang yang meyakini ide-ide tersebut.

Tahukah kaum siapa di akhirat yang bisa memberi syafaat selain Nabi? Ya, salah satunya adalah ulama. Bahkan perbandingan antara orang yang berilmu dengan mukmin yang ahli ibadah selisihnya tujuh puluh derajat.

Ditanyakan kepada Ibnul Mubarak: "Siapakah orang hina itu?"
Maka ia menjawab: "Mereka yang memperoleh dunia dengan agama"

Berkata Al Hasan ra, "Ditimbang tinta para ulama dengan darah apar syuhada, maka beratlah timbangan tinta para ulama itu daripad daraha para syuhada".

Bagitu banyak pujian untuk para ulama. Ilmunya membuat semakin dekat dengan Allah dan RasulNya. Memberikan tuntunan agar sesuai dengan jalanNya berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bila para orang berilmu diberi stigma negatif oleh seluruh manusia pun, selama Allah memuliakannya karena ilmunya maka aib manusia-manusi penista lah yang terbuka. Kebenran hanyalah dari Allah, rujukannya tentu saja apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW yaitu Al Quran dan assunnah. Selain itu? tentu saja levelnya dibawah keduanya.

Andai kamu tahu keduduakn dan kemuliaan orang-orang yang berilmu, tentu saja kamu tak kan memusuhinya apalgi menistanya. Bahkan ia kan kau jadikan pelita dalm gelap hidupmu. Ia kan kau jadikan sahabt terbaik yang kau dengar nasihat-nasihatnya.

Andai kamu tahu....

6 Ramadhan 1438 H
1 Juni 2017


Comments

Popular posts from this blog

Tantangan Dakwah di Dunia Kerja

 Sekulerisme merupakan paham yang memisahkan agama (aturan Allah) dan kehidupan. Agama, khususnya Islam, aturannay dikebiri hanya dibolehkan dijalankan dalam urusan ibadah ritual, sedikit masalah malan minum (halal) dan pernikahan (nikah dan cerai), selebihnya dianggap urusan private yang tidak boleh dipaksakan untuk diterapkan di area publik. Tentu saja, kondisi negeri yang menerapkan paham sekuler akan membuat menderita bagi orang-orang beriman. Bayangkan sesuatu yang diayakini benar tetapi tidak boleh dialakukan dan harus tunduk kepada yang tidak diyakini meskipun itu salah. Contohnya, ribawi praktik perbankan, dengan sistem simpan pinjam dan investasinya. Bunga bank menjadi faktor utama dalam akad ribawai yang dilegalkan bahkan "wajib" dilaksanakan, dan semua warga tidak bisa menolak akad tersebut. Di negeri berkembang, atau dengan pendapatan yang rendah, para pekerja dengan gajinya yang terkategori minim, dipastikan tidak akan mampu membeli rumah, mobil atau barang sekun...

Yogyakarta

14 februari 2010, keinginanku untuk bisa menikmati hidup di kota Yogyakarta akhirnya terwujud juga. Kesempatan itu datang seiring ketika ku bisa sekolah kembali di UGM. Yogyakarta, salah satu kota peninggalan peradaban kerajaan, hingga kini masih banyak bangunan-bangunan dan tradisi keraton yang masih terjaga meskipun hanya menjadi daya tarik wisata. Pola hidup kerajaan sudah tidak ada yang tertarik lagi khusunya generasi muda. Menurut pengalamanku hidup di beberapa kota yang berbeda, sebenarnya Yogyakarta hampir sam dengan kota-kota sekuler lainnya. Kehidupan hedon lebih terasa dan perjuangan (baca: penderitaan) hidup orang kebanyakan lebih mejadi model terbaik dari setiap sudut kota. Mumpung sekarang lagi rame-ramenya berbicara tentang Polisi. Saya coba bandingkan opini masyarakat tentang polisi. Sebelum saya ke Yogyakarta, salah seorang teman yang pernah di Yogya mengingatkan dengan “keras” kepadaku “Mas, jika bawa motor, hati-hati. Polisinya p...

Bahaya Pluralisme

Bahaya Pluralisme, sebuah tema Kajian islam yang dilaksanakan pad ahari ahad 24 Januari 2010 di Masjid Al A'raaf Poltangan-Ps.Minggu-Jakarta Selatan. Tema ini sengaja diangkat sebagai pendidikan Politik Islam kepada masyarakat agar tidak mudah terkecoh oleh isme-isme yang bertolak belakang dengan Islam. Sebagai sebuah penghormatan kepada KH.Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur, Presiden RI Bpk Susilo Bambang Yudoyono mengusulkan untuk memberikan Gus Dur sebutan sebagai Bapak pluralisme. Hal ini menuai pro kontra. Bagi kaum liberalis, ini adalah momen untuk menyebarkan pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama.  Pada kajian Bahaya Pluralisme, yang disampaikan oleh Ustadz Ir.Heru Binawan, dipaparkan secara gamblang mulai sejarahh munculnya pluralisem di barat hingga penyebaranny ke dunia Islam.  Setidaknya ada beberap hala baya menyangkut pluralisme ini diantaranya: Hilangnya identitas seorang muslim, meluasnya dan terjagnya penjajahan di negeri-nege...